Terdampar di Mimpi Aneh

Selamat datang kembali, pembaca yang budiman. Kali ini saya mau bikin artikel tanpa gambar hehe. Supaya pembaca bisa membayangkan dan berfantasi apa yang saya ceritakan.

Saya mau cerita soal mimpi saya beberapa hari lalu waktu tidur siang. Mimpi yang aneh. Mungkin benar apa yang dikatakan orang tua jaman dulu bahwa mimpi di siang bolong itu ngga pernah menyenangkan. Cenderung jelek dan tidak benar.
Ini bukan mimpi buruk sebetulnya, tapi mimpi ini agak membuat trauma. Ngga trauma mendalam. Cuma setelah kebangun agak gimana gitu. Pasti pada pernah ngerasain kan ya? Abis bangun dari mimpi kayak ketakutan gitu. Tapi ketakutannya gak beralasan, lebih kayak abis kena kejadian mengerikan aja. Padahal kalo diinget-inget, itu cuman mimpi dan kejadian di mimpi itu sebenarnya gak mengerikan juga sih. Aneh aja.

~~~~~

Ada dua mimpi. Mimpi pertama dan kedua ada jeda, tapi dalam di mimpi itu saya merasa nyambung. Oh ya, saya mengalami disorientasi tempat & arah di dalam mimpi itu.

~~~~~

Mimpi pertama paling absurd. Saya lagi jalan di sebuah gang. Gang ini bisa masuk satu mobil lah. Tapi kiri kanannya bukan perumahan, tapi kayak ladang atau sawah yang luas. Dan di situ gelap banget. Sepertinya latar waktunya menjelang magrib. Saya disorientasi tempat, gak tau itu di Ceko atau di Indonesia.

Tiba-tiba langkah saya makin berat. Jalan saya makin membungkuk. Tapi saya tetap berusaha mempertahankan tempo kaki. Saya nggak mau melambat. Saya pun ngga tau kenapa saya harus jalan cepat. Intinya saya harus jalan cepat.

Ngga berapa lama, latar makin gelap. Di kejauhan saya lihat ada tiang listrik yang hampir cuma sekadar siluet karena matahari hampir hilang. Langkah makin berat hampir berlutut. Tapi saya pastikan masih tetap jalan.

Sesampainya di tiang listrik tadi, saya coba berpegangan. Di situ saya bertanya-tanya, "ini dimana?" Lalu ada yang berbisik di kepala, "kamu di Indonesia. Pulang sekarang, istrimu menunggu di Ceko!" Lalu saya mikir, "kenapa? Keluarga saya kan di sini." Suara tadi berbisik lagi, tapi kali ini lebih dari 1 suara. Banyak. Mungkin 5-6 suara yang membuat saya pusing.

Entah itu suara siapa dan apa yang dikatakan, yang pasti kayak lebih dari 4 orang ngomong barengan. Ngga jelas apa isi bisikannya. Pusing.

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

Tiba-tiba emosi saya memuncak. Saya merasa bersalah. Entah bersalah sama siapa. Yang pasti bersalah. Sedih. Di sebelah tiang listrik saya masih berpegangan dan setengah berlutut. Suara-suara bisikan tadi masih meramaikan isi kepala. Saya makin pusing.
Makin lama suara-suara bisikan tadi perlahan berubah jadi suara angin yang sangat ribut. Ribut sekali di dalam kepala. Rasa sakit di kepala & sedih makin menjadi. Entah apa alasannya. Aneh!

~~~~~

Seperti layar TV, tiba-tiba pandangan saya gelap. Hilang. Suara-suara dan perasaan-perasaan tadi pun lenyap. Beberapa detik kemudian saya masuk ke mimpi kedua.

Saya masih merasa ada di latar yang sama. Gelap. Cuma ada siluet di kiri kanan. Masih belum paham saya ada di mana. Tapi rasa bersalah & sedih tadi, berubah jadi rasa takut.

Setelah saya perhatikan, ternyata saya ada di tengah samudera! Di sebuah kapal laut!

Tanpa lampu. Cahaya cuma datang dari sinar bulan. Tapi kapal itu beroperasi, jalan.

Kapalnya horor banget. Hampir ngga ada orang di situ. Gelap, sepi, cuma ada suara air dari laut. Bahkan suara mesin kapal sama sekali ngga ada.

Saya coba jalan menyusuri dek kapal. Cari-cari kehidupan, siapa tau ada orang lain di sana. Tapi rasa takut makin naik dan naik. Entah kenapa, mungkin karena gelap. Tapi rasa takut ini datang bukan karena latar mimpi, tapi seperti dititipkan sebagai bumbu dalam cerita.

Dari kejauhan, di ujung dek kapal sebelah kiri, saya melihat sesosok manusia. Sedang duduk di lantai, tanpa kursi dan alas. Tapi pandangan saya terbatas karena cahaya sedikit sekali. Saya masih melihat "benda" ini cuma siluet, bukan benar-benar manusia. Saya penasaran, meskipun rasa takut terus naik, karena saya yakin siluet ini sedang memperhatikan saya.

Sekira 10 meter jarak saya dan siluet itu, saya sudah bisa memastikan itu adalah manusia yang benar sedang duduk. Seorang bapak tua dengan jenggot tebal, tapi tampilan seadanya. Seperti tunawisma. Beliau bawa tas cukup banyak di kiri kanan badannya. Orang ini ternyata sudah dan masih memperhatikan saya, tanpa bicara atau menggoyangkan anggota tubuh. Seperti patung.

Saya coba terus dekati. Makin dekat..

Masih penasaran, saya terus dekati tanpa menyapa. Saya perhatikan wajahnya makin dekat. Dan benar, setelah mata saya menyesuaikan dengan cahaya sekitar, saya bisa memastikan bahwa orang ini sedang memperhatikan saya dari awal.

Saya pingin menyapa, tapi orang ini terlalu horor untuk disapa. Saat itu saya masih mengira ini patung. Tapi saya bisa lihat dengan jelas bola matanya bergerak mengikuti gerakan saya.

Makin dekat.. Dan makin dekat..

BAHHH!!!

Tiba-tiba langit terang dan kapal ramai orang. Seperti tidak ada kejadian apa-apa sebelumnya. Orang saling ngobrol satu sama lain. Cuma saya yang keheranan dan masih dalam keadaan takut apa yang terjadi. Saya seperti dilempar dari malam ke siang tanpa ada proses matahari terbit.

Saya coba pandangi orang-orang di sekitar situ. Tapi mereka seperti tidak menyadari kehadiran saya di kapal itu. Mereka asyik dengan orang-orang lain yang mungkin teman atau keluarganya. Dan bapak tua yang tadi malam sudah tidak ada di posisinya.

Di dalam kekalutan, saya masih berusaha tenang dan berpikir jernih. Pikiran terbesar saya pada saat itu adalah:

  • Saya dimana?
  • Kapal ini mau kemana?
  • Bapak tadi kemana?
  • Saya takut sekali
  • Saya sadar ini mimpi, ayo bangun!
Ya, betul. Saya sadar di situ bahwa saya sedang mimpi. Tapi saya tidak tau garis batas sadar dan tidak sadar. Karena di dalam mimpi, ketika kita sadar bahwa kita mimpi, sesungguhnya kita sedang tidak sadar di kehidupan nyata. Jadi batas antara sadar dan tidak sadar abu-abu. Di situ saya coba memecah misteri itu. Saya ingin tau garis batas sadar dan tidak sadar dari sini.

Saya total sadar bahwa saya sedang mimpi. Oleh karena itu, saya mau bangun dan sadar dalam kehidupan nyata karena mimpi ini membuat saya ketakutan terus. Saya ingin menyudahi cerita dalam mimpi ini.

Tapi saya tetap larut dalam adegan di mimpi itu meskipun saya sadar bahwa itu mimpi. Motorik saya tidak bisa bekerja sesuai keinginan otak saat itu. Yang saya tau pergerakan badan saya dikontrol oleh hal lain secara luwes di dalam mimpi sehingga sejatinya saya tidak sadar!

~~~~~

Tiba-tiba kapal merapat di sebuah pelabuhan kecil. Perasaan saya mengatakan itu di Indonesia. Saya bisa melihat di pelabuhan itu ada pasar ikan dengan alas tanah yang mengeras, bukan aspal. Memori saya masuk ke pengalaman waktu kecil dulu di Depok. Saya sering main di pinggir kali; air, batu, tanah, ikan, dedaunan adalah teman-teman saya saat itu. Saya makin yakin bahwa pelabuhan itu ada di Depok tanpa saya peduli bahwa Depok nyatanya gak punya pelabuhan!

Saya memutuskan untuk keluar kapal mengikuti orang-orang. Di pintu keluar kapal, saya ketemu seorang bapak tua. Bukan, bukan bapak tua yang tadi malam.

Penampilan bapak tua ini lebih bersih dan normal. Dan tidak banyak jenggot. Tapi beliau juga bawa banyak tas.

Saya mempersilakan bapak itu untuk keluar duluan karena pintu keluar kapal hanya cukup untuk satu orang. Bapak tua itu tersenyum dan jalan keluar kapal. Saya mengikutinya dari belakang.

Sambil jalan, bapak itu sadar saya jalan di belakangnya. Beliau bertanya, "dari mana mau kemana mas?"

Saya kaget dan agak terharu mengingat tidak ada satu orang pun dari scene-scene sebelumnya yang bisa saya ajak interaksi. Saya langsung menjawab dengan hati gembira, "saya gak tau pak dari mana, tapi saya mau pulang ke Brno. Beruntung banget saya ketemu bapak, saya bisa ngobrol dan nanya-nanya."

Beliau diam. Posisi kami sudah ada di pasar ikan di pelabuhan tersebut. Bapak ini ambil ponsel dan telepon keluarganya. Terlihat bahagia dari raut wajahnya. Saya menduga orang ini lama di perantauan dan baru kali ini pulang ke rumah.

"Saya habis telpon anak saya karena mereka janji mau jemput di sini," ujarnya. Saya senang melihatnya, tapi sekaligus agak sedih karena cepat atau lambat bapak ini pasti pergi dari pelabuhan dan saya kembali sendiri tanpa ada teman ngobrol.

"Oh iya, kapal yang tadi ke Brno kok. Mas bisa lanjut pake kapal tadi. Jangan sampe ketinggalan lho." ujarnya lagi.

Saya langsung berpikir apa saya punya uang untuk bayar kapal? Karena saya naik kapal juga gak tau kapan beli tiketnya. Kan tau-tau ada di kapal haha. Terus apa benar itu kapal ke Brno, kan Brno gak punya laut. Campur aduk pikiran dan perasaan aneh-aneh.

"Pak, ngomong-ngomong ini dimana ya pak?" tanya saya ke bapak tadi. "Lho kok mas gak tau gimana sih? Ini di Sweden!"

Lah????????????

Makin aneh tuh. Indonesia, Brno, Sweden, bapak tua, dijemput anak, pulang, kapal, pasar ikan.....

APA INIIIIIIII.... AAAAAAAAA.......

~~~~~

Ngga berapa lama anak dan cucu bapak tua ini datang menjemput. Mereka semua kangen-kangenan, berpelukan. Satu orang membantu bawakan tas si bapak ke mobil. Saya cukup senang melihat wajah-wajah bahagia mereka.

Tapi saya ingat bapak itu bilang kapal tadi akan lanjut ke Brno. Saya harus segera kembali ke kapal! Kebetulan dari tempat kami berdiri, kami bisa melihat kapal yang tadi kami tumpangi.

Tapi saat itu kapalnya udah ngga ada! Entah udah lanjut perjalanan atau gimana! Saya panik karena saya tau saya gak bawa uang. Bahkan tas saja saya gak bawa.

Saya bilang ke bapak tadi, "pak, kapalnya udah ngga ada. Gimana nih saya pulangnya?" Bapak tadi jawab, "tadi saya udah bilang, jangan sampe ketinggalan. Ya sudah mas, saya mau pulang dulu. Anak dan cucu sudah menunggu di mobil." Lalu bapak itu pergi tanpa banyak basa basi.

Lalu nasib saya?

Tiba-tiba langit gelap dan hujan. Yang tadinya rame orang, mendadak sepi. Pasar ikan pun hilang. Cuma ada beberapa stand yang sudah tutup. Latar sisanya?

SAMA PERSIS SEPERTI CERITA DI MIMPI PERTAMA. (baca paragraf mimpi pertama)

Ketakutan saya kembali memuncak. Kali ini bukan cuma rasa takut. Tapi akumulasi perasaan dari awal: ketakutan, bersalah, dan sedih. Tanpa sebab, tanpa alasan. Saya berjalan menyusuri gang yang tadinya pasar ikan itu. Dan di kejauhan saya kembali melihat tiang listrik, persis seperti di mimpi pertama.

Saya berdoa terus-terusan. Saya minta sama Tuhan untuk menyudahi mimpi ini karena mimpi ini berputar. Saya mau bangun, saya mau bangun, SAYA MAU BANGUN!

~~~~~

Saya pun terbangun karena ponsel saya bunyi.

Terima kasih Tuhan, engkau telah menghadirkan getaran di ponsel yang membuat saya terbangun dari mimpi aneh itu.

Comments

Post a Comment

Popular Articles

Pengalaman Beli Tiket Pesawat Murah ke Hong Kong

Selamat Datang di Era Digital

Pengalaman Liburan ke Hong Kong [Part I]