Pengalaman Euro Trip 2017 Part VIII [Stockholm]

Halo, guys! Jumpa lagi di artikel terbaru Pengalaman Euro Trip 2017 Part VIII di Stockholm, Swedia. Saya dan Adriana sudah hampir ada di pertengahan rangkaian Euro Trip nih.

Selamat datang di Stockholm

Seperti yang sudah saya ceritakan di artikel sebelumnya, di Antwerp kita sebetulnya cuma transit. Penerbangan kami harusnya Vienna-Stockholm, dengan transit 6 jam di Brussels. Jadi kita manfaatkan keluar bandara dan pergi ke Antwerp.

Baca artikel sebelumnya: Pengalaman Euro Trip 2017 Part VII [Antwerp]

Stockholm, 14 Dec 2017

Penerbangan Brussels-Stockholm ditempuh kurang lebih 2 jam. FYI, tidak ada perbedaan waktu antara Austria, Republik Ceko, Slovakia, Belgia, dan Swedia. Mereka sama-sama menggunakan GMT+1 dengan +1 lagi untuk summer time. Sorry, out of topic hehe..

Nah dimana awalnya saya beli tiket ke Stockholm dari Vienna? Dan berapa harganya?

Saya beli di GoEuro[dot]com. Kebetulan saya punya app-nya di HP. Saya dapat Brussels Airlines dengan harga 63.97 EUR per orang. Saya gak beli PP ya, karena dari Stockholm, rangkaian perjalanan kami lanjut ke Amsterdam. Nanti akan saya ceritain di artikel berikutnya.

Total 127.94 EUR untuk dua orang. Bisa dicek di gambar di bawah ini. Aslinya, harga tiket kami (basic fare) cuma 2 EUR per orang 😂 Gila-gilaan emang nih Brussels Airlines. Tapi konsekuensi dari harga murah ini, kita mesti transit di Brussels selama 6 jam.



Penerbangan kami dari Vienna dengan nomor penerbangan SN 2902 menuju Brussels. Kemudian dilanjut dari Brussels dengan SN 2307 menuju Stockholm Bromma Airport. Bromma Airport ini mungkin diperuntukkan bagi maskapai-maskapai low cost dan berbadan kecil.

Kami sampai di ibu kota Skandinavia ini, sekitar hampir jam 8 malam. Sebetulnya Adriana pingin langsung ke penginapan. Tapi saya masih mau liat-liat bandara dulu, meskipun bandara ini kecil banget. Saya rasa bandara Bromma ini lebih kecil dari Adi Sucipto, Jogja.

Bromma Stockholm Airport

Parkiran bandara

Taksi Stockholm

Saya juga sempat ngerokok dulu di luar bandara sambil nunggu bis Flybussarna ke pusat kota Stockholm, Cityterminalen. Jadi, dari bandara ke pusat kota dan sebaliknya, Stockholm punya bis Flygbussarna ini. Tiket bisa dipesan online (via app atau website), di mesin tiket, atau langsung beli di dalam bis. Waktu itu kita beli di mesin tiket di Bandara Bromma.

Ingat! Flygbussarna paling murah beli online (in advance), paling mahal beli langsung di dalam bis (sama driver). Di kasus saya dan Adriana, saya beli di mesin tiket di bandara. Harganya bisa dibilang di tengah-tengah. Dibilang mahal banget juga engga. Dibilang murah banget juga engga. Bisa cek di gambar di bawah, untuk satu orang kita kena 85 SEK (ada VAT 6% sebesar 4.81 SEK, sepertinya sudah termasuk).


Oh iya, Swedia tidak menggunakan EUR dalam bertransaksi, sama seperti Republik Ceko (CZK - Czech Koruna). Jadi di sini, kalian harus punya SEK (Swedish Krona). Saat tulisan ini dibuat, harga 1 SEK adalah 1700 IDR.

Jelas ya?

Nah kami sempat masuk ke dalam bandara lagi, setelah saya ngerokok. Kebetulan memang waktu ngerokok, gak ngeliat bis Flygbussarna di haltenya. Jadi kita pikir masih ada waktu buat menjelajah dalam bandaranya sambil nunggu bis selanjutnya. Kali aja bisa jajan-jajan dulu. Udah agak laper emang sih waktu itu.

Di dalam bandara, kami nemu sebuah convenient store punya Swedia, namanya PressbyrÄn (baca: presbiron). Di situ kita cari makanan murmer aja buat isi perut. Karena sebelum kita pergi ke Stockholm, kita udah tau bahwa kota ini adalah kota mahal! Jadi sebisa mungkin jangan aneh-aneh di sini.

Kami ambil roti-rotian dan susu. Langsung anter ke kasir. Nah kita lupa nih berapa harganya. Kebetulan di Stockholm ini kami rata-rata cashless (karena gak punya SEK). Kebanyakan pake kartu debit, jadi suka gak tau harga karena struknya dibuangin 😅



Kesan pertama saya terhadap orang lokal di Stockholm adalah keren! Kontak pertama kami dengan kasir di PressbyrĂ„n ini. Cowok, muda, bahasa Inggrisnya muantap tenan! Fasih & lancar. Saya selalu khawatir kalo ketemu orang lokal yang gak bisa bahasa Inggris. Akan ribet jadinya. Contohnya di Slovakia. Oh tapi soal bahasa Inggris di Stockholm, maklum sih, Swedia salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Banyak yang berbahasa Inggris dengan baik. No wonder~

Setelah kita beres ngemil, kita keluar dari bandara dan langsung nunggu bis Flygbussarna di halte bandara. Suhu tertangkap saat itu adalah 0⁰C. Saya sudah tau suhu di luar sejak kita ngemil di PressbyrĂ„n karena kita nyambung ke wifi PressbyrĂ„n. Jadi begitu keluar bandara, saya langsung pake sarung tangan & kupluk. Btw, di Stockholm, suhunya rata-ratanya terbilang lebih rendah dari negara-negara yang saya kunjungi sebelumnya.

Setelah Flybussarna datang, kami langsung masuk bis dan duduk paling depan. Di sini, lagi-lagi, ketika saya ajak ngobrol supir bis, beliau bisa jawab dengan good English! Jadi jangan khawatir pergi ke Stockholm, guys! Mereka open dan ramah kok terhadap turis.

Kurang lebih 1 jam ditempuh dari Bandara Bromma ke Cityterminalen. Cityterminalen ini jadi menurut hemat saya adalah pusat pemberhentian transportasi umum dari dan ke Stockholm. Di sini juga ada stasiun dan halte bis Cityterminalen.


Kurang lebih jam 9.15 malam kami sampai di Cityterminalen. Lalu ambil peta di sebuah kios buat bekal jalan ke penginapan.

Sesuai rencana, dari Cityterminalen ini, kami akan jalan kaki ke penginapan kita di Gamla Stan. Sekarang coba saya simulasikan melalui Google maps.


Penginapan kami namanya Old Town Lodge, di kawasan Gamla Stan. Dari Cityterminalen nggak jauh, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Di peta di atas, jalur kami adalah jalur yang ada titik-titik biru.

Dekat sih, tapi bukan tanpa masalah. Waktu itu kondisi hujan dan suhu kurang bersahabat. Asumsi saya waktu itu suhu ada di angka -2⁰C. Anehnya, air hujannya gak dingin lho. Meskipun hujan, kita terabas juga.

Jujur, sepanjang perjalanan ke penginapan waktu itu, sebetulnya saya gak kuat 😅 Saya beberapa kali ngeluh sama Adriana soal suhu. Waktu itu saya teringat akan kamar saya di Depok dengan suhu normal sekitar 25⁰C, selimutan, pake kipas angin... Jadinya agak emosi juga. Jadi bukan cuma suhu panas aja yang bikin emosi, suhu dingin juga bisa bikin naik darah haha. Tapi waktu itu saya gak marah-marah, cuma jadi gak sabaran mau buru-buru sampe penginapan. Untung istriku sabar~

Bayangin, waktu itu hujan, jeans dan sepatu basah, kondisi suhu -2⁰C, mau ngamuk gak lo? Hahaha!

Old Town Lodge

Akhirnya kita pun ketemu sama penginapan kita: Old Town Lodge. Penginapan ini sudah saya pesan waktu masih di Jakarta via booking[dot]com. Kalian bisa cek di halaman ini untuk lihat review dan penampakan penginapan ini. Penginapan ini letaknya di dalam gang kecil yang cantik khas Stockholm. Waktu kami tiba malam itu, saya berasa ada di abad pertengahan di dalam sejarah-sejarah Eropa 😍

Sampai di depan pintu, saya terpicu kesel lagi. Pintu depan dikunci, resepsionis gak ada, kita pencet-pencet bel gak ada yang nyaut. Di situ cuma ada tombol-tombol angka. Saya pikir waktu itu, itu hanya untuk orang yang udah check in, pasti punya nomor kode untuk buka pintu.

Tapi ini adalah kesalahan saya!!

Adriana ingat. Beberapa hari sebelum kita berangkat, pihak Old Town Lodge pernah email saya perihal nomor-nomor kode yang harus saya pegang untuk masuk penginapan dan bahkan masuk kamar saya. Just in case kalau saya telat dan udah gak ada resepsionis.

Langsung lah saya buka Gmail. Untungnya masih bisa dibuka secara offline, tanpa internet. Kalo ngga, kayaknya kita akan tidur di luar situ hahaha. Kira-kira emailnya seperti di bawah ini


Front door code 8***. Small grey locker 8***

Keren banget nih penginapan! Gak perlu orang ketemu orang. Langsung cek email, kita udah bisa masuk ke dalam, bahkan ke kamar. Di situ gue mikir kaya lagi main game gitu. Kita dikasih petunjuk buat ke suatu tempat, nanti di sana ada nomor yang harus kita masukin. Terus petunjuk selanjutnya keluar. Gitu-gitu deh haha.

Mereka kasih tau kode masuk pintu luar penginapan. Setelah masuk ke dalam, jarak 6 kaki dari pintu, di sebelah kanan ada loker abu-abu, di atas. Buka loker itu dengan kode yang sudah disediakan. Di dalam loker itu ternyata sudah ada amplop tertulis nama saya.


Di dalam amplop itu ada denah penginapan, kode masuk kamar, dan password wifi. Gile!

Well organized, man!

Akhirnya kita berhasil masuk kamar dan menghangatkan diri. Haaah, lega 😅




Ada sedikit perasaan kecewa sih karena kamar kita adanya di bawah tanah. Itu sebutannya mungkin dorm, tapi ada sekat-sekat gitu. Sekatnya gak full sampe atas, paling cuma 2.2 meter. Jadi kalo setiap orang di kamar ngobrol agak kenceng, akan kedengeran sama penghuni kamar yang lain. Kebayang gak? Seperti ini kamar kami





Unik sih, temboknya masih dari batu-batu gitu. Cuman ya masalah di sekat-sekatnya aja.

Stockholm, 15 Dec 2017

Kami bangun jam 8, langsung sarapan. Seperti biasa, kopi dan rokok selalu jadi teman saya di pagi hari. Tapi pagi itu kita dapat sarapan gratis dari penginapan. Bukan sarapan mewah seperti di hotel-hotel mahal. Ini levelnya dorm, paling gratis kopi dan teh. Ada juga roti atau sereal. Ada dapurnya sendiri juga, kita bisa manfaatkan ini.



Berikut ini pemandangan gang di depan penginapan. Gambar diambil sekitar jam 8an pagi.




Truk sampah berhenti depan muke gueee


Pagi itu resepsionisnya ada. Tapi kayaknya gak kerja full-time gitu, siangnya udah ilang lagi haha. Jadi di pagi itu gue urusin pembayaran kamar gua biar tenang kalo mau cabut siangnya. Sama minta ruangan buat nitip tas dan barang-barang selama jalan-jalan di Stockholm. Nantinya akan kita ambil lagi pas udah bener-bener cabut.

Oh iya, setelah dari Stockholm ini, kami akan berlayar ke Helsinki, Finlandia. Baca juga ceritanya gimana saya mendapatkan tiket berlayar gratis Stockholm-Helsinki PP. Setelah itu balik ke Stockholm lagi untuk terbang ke Amsterdam.

Jadi pagi itu, kami keluar hotel cuma untuk keliling-keliling Stockholm aja. Tas masih ditaro di penginapan. Biar gak berat hehe. Rencana jam 12an siang akan balik ke penginapan buat ambil tas. Lalu langsung berangkat ke Pelabuhan Stockholm VĂ€rtahamnen, naik kapal "Titanic" ke Helsinki, Finlandia.

Awalnya kita keliling Gamla Stan, daerah dimana penginapan Old Town Lodge ini berada. Gamla Stan berarti Old Town atau Kota Tua. Lama-lama bergeser ke Kungliga Slottet, cari cemilan di PressbyrÄn, keliling KungstrÀdgÄrden, terus dilanjut ke Klara MÀlarstrand ferry terminal. Untuk cerita singkatnya, saya buat di dalam satu video di bawah ini


Dari Old Town Lodge ini, kami masih ada di gang-gang kecil Gamla Stan yang unik. Seperti berada di abad pertengahan guys!













Gimana? Setelah liat foto-foto saya di artikel ini, jadi mupeng gak pengen ke Stockholm?

Setelah keliling-keliling ini, sekitar jam 1an siang, saya dan Adriana kembali ke Old Town Lodge untuk ngambil tas yang kita titipkan di sana. Saat itu kita pikir udah cukup jalan-jalannya. Saatnya pergi ke pelabuhan (sekalian jalan-jalan juga sih).

Rencana awal kita pergi ke pelabuhan full jalan kaki, totalnya sekitar 5 km. Tapi waktu itu saya rasa tas terlalu berat untuk diangkut jalan kaki 5 km. Jadi kami memutuskan untuk pake metro aja sampe ke dekat pelabuhan, lalu dari situ jalan kaki.

FYI, di Vienna ada U-Bahn (boleh cek lagi di artikel tentang Vienna), di Berlin ada S-Bahn, nah di Stockholm, metro subway namanya T-Bana. Di setiap stasiun, ada logonya: "T".


Keputusan kita waktu itu naik metro dari Stasiun Gamla Stan sampai Stasiun Karlaplan. Soal harga tiket, foto yang saya buat di loket di bawah ini kayaknya cukup menjawab.


Karena perjalanan kami ke pelabuhan dan akan meninggalkan Stockholm satu hari, jadi kami beli tiket yang single journey-75 menit. Kalo kalian niat beberapa hari di Stockholm atau di Swedia secara umum, lebih baik pake yang Periodbiljetter/Travelcards. Mohon maaf, itu yang saya fotoin platnya kurang mulus.

Yang lucu, kita beli tiket, tapi gak dapet tiket. Hayo! Kebayang gak? Jadi setelah kita beli & bayar, kita cuma dikasih struk aja kayak di bawah ini.


Lah trus gimana caranya kita bisa masuk gate-nya?

Nah ini problem kita di awal. Kita pikir struk ini bisa dipake buat tap gate. Ternyata dicoba-coba kok gak bisa 😅 Norak lah waktu itu. Sampe beberapa menit kok di-tap gate-nya gak kebuka-buka. Habis itu kita nanya lagi ke petugas di loket gimana cara kita masuk ke stasiunnya, kan kita udah beli tiket. Terus dia bilang, "ya kalo mau masuk bilang, nanti saya bukain gate-nya dari loket." Aneh deh!

Btw, Stockholm di bayangan saya sebelumnya adalah kota yang sangat bersih dan (mungkin) gak ada pengemis atau tunawisma. Tapi saya salah, bro! Kayaknya masalah sosial ini memang dialami seluruh kota di dunia ya. Ada juga pengalaman saya di Helsinki soal ini. Nanti akan saya jelaskan.

Stockholm T-Bana Route Map

Bisa dicek rute T-Bana di atas ini gaes?

Nah seperti yang tadi saya udah jelasin, bahwa kami berdua memutuskan naik metro sampai Karlaplan. Jadi sesampainya di peron Stasiun Gamla Stan, kami langsung ambil rute T13 menuju Stasiun Karlaplan (jalur merah).




Setelah tiba di Stasiun Karlaplan, kami langsung ke luar stasiun. Karena masih punya banyak waktu dan kebetulan belum makan siang, kami manfaatkan dulu untuk makan siang. Sebelumnya kami sempat berkeliling di kawasan Karlaplan ini.




  

Kami lanjut makan di sebuah tempat makan kebab, yang lokasinya outdoor. Agak disekat gitu dengan kaca & dikasih pemanas. Bisa cek di video di bawah ini.


Selesai makan, kami jalan kaki ke Pelabuhan VĂ€rtahamnen. Jaraknya gak terlalu jauh, mungkin 45 menit jalan kaki. Masalahnya ya cuma suhu aja sih. Tapi di suhu dingin seperti itu, jalan kaki adalah pilihan bagus karena menggerakkan badan sama juga menghangatkan badan.






Begitu sampai di pelabuhan, kami langsung disambut oleh staff pelabuhan untuk check in di mesin yang sudah disediakan. Mesin ini juga yang mengeluarkan tiket kita. Jadi kertas booking akan ditukar tiket di sini.

Tiket

Setelah itu kami langsung ikutin instruksi untuk masuk ke dalam kapal. Tanda-tandanya jelas kok, tinggal ikutin aja.



Setelah itu kami langsung masuk kamar, beberes, terus keliling-keliling kapal.





Tadi itu kamar kita. Nah sekarang kita jalan-jalan keliling kapal yuk. Kapalnya kayak mall lho! Hahaha.



Kayak mall kan?



Hari sudah gelap, temperatur -1⁰C



Kapal ini rata-rata bahasa petunjuknya adalah Bahasa Swedia dan Finlandia

Tapi jangan takut. Petugas kapalnya banyak juga kok yang bisa berbahasa Inggris. Dan untuk pengumuman "halo-halo", petugasnya pake dua bahasa itu, plus Bahasa Inggris. Jadi bukan masalah.

Perjalanan dari Stockholm ke Helsinki dengan kapal ini ditempuh sekitar 12 jam. Jadi kami bermalam di kapal ini. Infonya kita mesti transit di Mariehamn, Kepulauan Åland. Tapi kita gak sadar karena pastinya dini hari dan kita udah tidur hehe. Lagian kalopun transit dini hari ya gelap lah. Kalo di musim panas mungkin masih bisa dapet matahari, tapi ini musim dingin.

Nah kami istirahat dulu. Artikel selanjutnya akan saya bahas ketika kita sampe di Pelabuhan Olympia Terminaali, Helsinki besok harinya.

Baca terus artikel-artikel terbaru di Tempat Sampah ya. Jangan sampe kelewatan. Siapa tau artikel-artikel di blog ini berguna buat pembaca.

Kalo ada kritik, saran, pertanyaan, dan sanggahan, kolom komentar selalu terbuka. Lempar aja di situ ya.

Jumpa lagi! Bye bye..

Comments

Popular Articles

Pengalaman Beli Tiket Pesawat Murah ke Hong Kong

Pengalaman Liburan ke Hong Kong [Part I]

Beli Perlengkapan Winter Wear di Jakarta