Pengalaman Euro Trip 2017 Part VI [Vienna]

Halo, guys! Balik lagi di artikel terbaru soal trip saya ke Eropa bulan Desember 2017 lalu. Mulai di artikel ini dan artikel-artikel selanjutnya, saya akan menceritakan pengalaman Euro Trip saya dan Adriana dari tanggal 12 Desember sampai 21 Desember.

Euro Trip ini dimulai dari Brno dan berakhir kembali di Brno. Rutenya seperti ini:

Brno - Vienna - Antwerp - Stockholm - Helsinki - M├Ąrsta - Amsterdam - Utrecht - Praha - Brno

Yuk, kita balik sebentar ke artikel ini waktu saya pertama kali sampai di Bzince pod Javorinou, Slovakia. Di situ, saya gak bicara banyak soal apa yang saya lakukan di rumah mertua di Slovakia. Yang pasti, saya tiba di sana tanggal 10 Desember, lalu nginap di sana dua hari sampai tanggal 12 Desember.

Malam tanggal 12 Desember, saya dan Adriana ke apartemen Adriana di Brno, Republik Ceko. Gak banyak juga yang bisa saya ceritakan di malam itu. Kebetulan di hari itu saya masih kena jetlag, sehingga ngantuknya tak tertahankan dari jam 5 sore.

Waktu itu hari sudah gelap dari jam 4. Kita berangkat dari Bzince ke Brno sekitar jam 10an malam pake mobil. Jaraknya kurang lebih 130an km. Seperti biasa, posisi kita di mobil saya & mobil Adriana gak berubah. Saya duduk tetap di kursi sebelah kanan, Adriana di kiri. Tapi kalo di Indonesia, setirnya ada di kursi saya. Sedangkan di sana, setirnya ada di kursi Adriana hahaha.

The Adventure Begins!

Sepanjang perjalanan ke Brno saya kebanyakan tidur. Selain di jalan pun gelap, gak ada apa-apa, jam segitu pun di Indonesia udah pagi. Jadi menurut waktu Indonesia, saya belum tidur hahaha.

FYI, di Slovakia, jalan raya gak punya lampu. Bahkan di jalan tol. Jalan penghubung antarkota antarnegara benar-benar gak ada apa-apa. Di kiri kanan cuma bukit & gunung atau hamparan luas. Kalo malam ya gak keliatan apa-apa.

Sesekali saya kebangun dan memastikan bahwa Adriana gak ikutan ngantuk. Karena jarak Bzince - Brno sekitar dua jam.

Sesampainya di Brno sekitar jam 12 malam, Adriana nyuruh saya untuk masuk ke rumah, lanjutin tidur, dan bawa masuk beberapa tas yang kita perlukan selama perjalanan Euro trip seminggu ke depan. Sementara dia parkir mobil di tempat biasa dia parkir kalo di Brno. Agak jauh dari rumah, mungkin 20 menit jalan kaki. Kalo pake mobil mungkin cuma 5-10 menit, tapi kan dia baliknya ke rumah jalan kaki.

Di dalam, saya pun menyalakan pemanas portable. Sudah berapa hari dari Adriana meninggalkan apartemennya tanpa menghidupkan pemanas, sehingga temperatur di dalam ruangan dan di luar hampir gak ada beda ­čśů Saya pun gak bergegas buka baju untuk tidur. Tapi saya usahakan badan tetap hangat sambil nunggu pemanas bekerja optimal dan menghangatkan seluruh ruangan.

Beberapa menit setelah itu, Adriana pun tiba di rumah.

Brno - Vienna

Rabu, 13 Desember 2017, setelah beberes, packing, dan mandi (ini mandi pertama kali di Eropa di musim dingin) kita pun bergegas untuk berangkat ke Vienna. Sebelumnya istriku yang baik sudah pesan 2 tiket bis dari Brno ke Vienna, dengan menggunakan bis RegioJet.

Pagi itu sekitar jam 11an, kami pun bergegas menuju Grand Hotel Brno menggunakan tram sampai centrum (pusat kota). Karena kita masih punya waktu lebih, dari centrum kita jalan kaki ke Grand Hotel Brno sambil lihat-lihat.

Oh iya, bukan ke Grand Hotel-nya ya, tapi ke halte depan hotel. Di situ ada halte bus yang cukup besar. Halte bus yang melayani banyak rute dari dan ke Brno. Bus RegioJet kita berangkat dari situ.








Grand Hotel Brno



Di situ, kita masih harus nunggu bus tujuan Vienna dan ngasih lihat bukti booking di kios RegioJet.

Booking RegioJet

Ngerti gak? Gue juga gak ngerti haha. Ini email pemesanan dari RegioJet ke Adriana. Harga totalnya 358 CZK (Czech Koruna) atau sekitar 14 EUR untuk single trip dari Brno ke Vienna. Keberangkatan pukul 13.10. Itu Praha - Vide┼ł maksudnya bis ini titik awal keberangkatannya dari Praha titik akhirnya di Vienna (bandara Schwechat). Ketibaan di Vienna pukul 15.05. Nomor kursi 27 & 28.

Kurang lebih 15 menit, bus kami datang. Kita langsung antri untuk masuk.


Sekitar 10 menit semua penumpang sudah duduk di dalam bus. Kerennya, bus RegioJet ini punya in-flight entertainment juga, kayak pesawat. Ada LCD display, isinya musik, radio, TV, film, dan menu kudapan yang bisa dipesan di bus.


Setelah beberapa lama "mengudara", saya pesan teh hangat.


Yang di atas itu tiket tram dari rumah ke centrum Brno ya, bukan tiket bus RegioJet

Perjalanan ditempuh sekitar 2 jam. Sebetulnya dari Brno ke Vienna itu jaraknya sama seperti dari Jakarta ke Sukabumi mungkin ya. Cuma kalo di sini tanpa macet, jadi 2 jam aja udah cukup.

Tiba juga di Wina - Vienna - Viden - Wien

Kami turun di sebuah mall dekat stasiun Vienna U-Bahn (stasiun subway) jalur U2, Stadion Station namanya. Sesampainya di situ saya ngerokok dulu sebentar, karena ngiler liat ada orang ngerokok hehehe.

Kemudian kita lanjut ke stasiun Stadion dan rencana mau ke stasiun Messe-Prater. Istriku kasih tau bahwa di dekat situ ada minimarket Indonesia. Kebetulan masih belum gelap waktu itu, masih jam 3. Jadi kita masih punya banyak waktu untuk keliling sebelum nantinya kita ke Airbnb.

Oh iya, kita beli tiket terusan yang berlaku 24 jam di seluruh pusat kota Vienna. Harganya 7.6 EUR. Kenapa kita beli tiket ini? Jadi kita gak akan lama di Vienna. Ga akan sampe jam 3 besoknya juga (gak sampe 24 jam). Jam 9 pagi kita udah harus terbang ke Brussels. Jadi kalo beli satuan ya akan boros. Mending langsung 24 jam. Ya gak?


Lanjut..

Kita naik metro 2 stasiun, sampe ke stasiun Messe-Prater. Sebelumnya memang saya sudah memperhatikan Google maps, dimana toko Indonesia itu berada. Tapi begitu sampe di sana jadi lupa hehehe. Untungnya Adriana punya offline map.






First impression: saya suka Vienna. Cantik. Kota besar, tapi gak kumuh. Gak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Dari stasiun Messe-Prater, kita jalan sesuai petunjuk offline map menuju toko "Sederhana", toko Indonesia yang saya maksud tadi. Kurang lebih 15 menit jalan sambil menggigil, sampailah kita di toko Sederhana itu. Tapi saya gak punya fotonya, maap ­čśô Pokoknya toko ini berada di jalan Stuwerstra├če.

Di sana kita beli dua bungkus mie instan Indonesia dan keripik tempe kalo gak salah hahaha. Buat cemilan selama di jalan. Kebetulan yang jaga di sana juga orang Indonesia. Kami sempat berbincang beberapa saat.

Setelah dari sana, kita balik ke stasiun Messe-Prater untuk menuju ke Airbnb.



Kita naik metro dari stasiun Messe-Prater ke stasiun Schottentor. Menurut Google maps yang sebelumnya saya pelajari, dari stasiun Schottentor udah tinggal jalan kaki aja menuju Airbnb kita yang lokasinya ada di jalan Fuchsthallergasse via W├Ąhringer Stra├če. Memang nggak deket, tapi masih terjangkau untuk jalan kaki. Sebetulnya ada stasiun metro yang lebih dekat dari Fuchsthallergasse, Airbnb kita, tapi dari jalur metro U2, kita mesti ganti jalur ke U6. Agak repot dan muter-muter. Toh kita mau nikmati kota, bukan mau diem di transportasi umum terus sampe penginapan tidur hahaha.




Sesampainya di Stasiun Schottentor, kita langsung jalan santai ke Fuchsthallergasse, diiringi temperatur yang rendah. Sekitar 1⁰C pikir saya. Jarak dari Stasiun Schottentor sampai Fuchsthallergasse sekitar 500-700 meter.


Sesampainya di Fuchsthallergasse, kita gak tau lokasi persisnya. Untung saya masih bisa buka app Airbnb secara offline dan bisa ngecek nomor telepon host-nya. Jadi saya telepon lah si host pake HP Adriana. Karena saya gak pernah ganti-ganti sim card kalo lagi di luar. Jadi mau gak mau jaringan telepon & SMS mati. Untuk internet ya manfaatkan wifi.

Host-nya ini namanya Bro (bukan nama sebenarnya). Bro bilang bahwa dia lagi di luar. Dia kasih tau nomor rumahnya dan nomor kamarnya. Saya disuruh pencet bel aja, nanti temannya dia keluar. Kebetulan temannya Bro lagi ada di sana. Akhirnya yaudah, kita ikuti instruksi Bro dan gak berapa lama, kita pun ada di apartemennya Si Bro.

Jadi beberapa waktu sebelum terbang ke Eropa, saya memang sudah book Airbnb untuk di Vienna. Review saya untuk tempat ini kurang oke sih (bisa dicek di link di situ). Toiletnya kotor, lantai kamarnya agak miring, suasananya berantakan, dll. Udah gitu selama kita nginap di sana, si Bro dan temannya (Bri) itu ada di ruangan sebelah dan kedengeran mereka ngomong, gak kedap suara. Jadi gak private kan. Buat saya pribadi sih bukan masalah besar, tapi kan saya sama istri. Kasian dia.

Jadi singkat cerita, saya cuma taro barang aja di sana lalu keluar lagi untuk menikmati Kota Vienna di sore sampai malam hari.

Eh nggak deng. Saya sempet masak mie yang kita beli di Toko Sederhana hahaha. Kelaperan akut, jadi harus makan sesegera mungkin. Setelah itu baru kita keluar. Nitip pesan sama si Bri, untuk kasih tau Bro kalo kita keluar sampe malem.

Nah di situ, otak kita baru bekerja. Tiket 24 jam yang kita punya kan bisa dipake untuk semua transportasi umum di Vienna. Termasuk tram. Kenapa tadi kita dari Schottentor ke Fuchsthallergasse gak pake tram aja? Kocak! Hahaha.

Akhirnya sore itu, kita menuju ke Schottentor lagi pake tram dari halte terdekat. Tujuan pertama kita adalah Rathaus! Denger-denger di sana Christmas Marketnya seru.



Dari stasiun Schottentor kita ambil jalur U2. Satu halte aja menuju Rathaus. Kita jalan-jalan di Christmas Market atau kalo di Rathaus ini namanya Wiener Christkindlmarkt.

Jadi secara umum, kota-kota di Eropa itu punya Christmas Market, biasanya sebulan menjelang natal. Modelnya kayak pasar malam di Indonesia. Banyak yang jualan, ada jualan merchandise, minuman, atau makanan. Biasanya juga ada lapangan ice skating. Emang seru!





Lapangan ice skating artifisial




Di sini kita juga nyobain hot wine. Oh ya, hot wine ini dijual rata-rata di semua "pasar malam", di kota-kota lainnya juga. Sebelumnya saya nyobain hot wine di Nove Mesto nad Vahom itu gak enak. Karena rasa rempahnya terlalu kuat, kayak jahe gitu. Aneh kan wine campur jahe.

Hot wine kami

Rathaus

Koridor Rathaus


Burgtheater


Bosan dan puas jalan-jalan di pasar malam ini, kita lanjut nyoba pasar malam di lokasi lain. Kita menuju ke Stephansplatz.

Kita balik ke stasiun metro Rathaus, naik metro sampai stasiun Karlsplatz. Setelah itu pindah jalur U1, satu stasiun saja menuju Stephansplatz.

Setelah keluar dari stasiun Stephansplatz





Ngga banyak juga yang bisa kita lakukan di sini. Pasar malam ya pasar malam. Tapi intinya seru! Malam berlanjut, kita mesti buru-buru balik ke Airbnb. Takut besok paginya gak bangun. Soalnya kita mesti ngejar pesawat jam 9.30 pagi.

Sebetulnya waktu itu kita lapar, tapi mau cari tempat makan yang dekat Airbnb aja. Jadi kalo kenyang-bego, pulangnya enak, deket hehe.

Pulangnya, kita ambil jalur subway yang sama, yaitu U3. Tapi saya waktu itu mau explore stasiun subway yang dekat Airbnb kita,jalur U6 Stasiun Vienna-W├Ąhringerstra├če Volksoper. Jadi kita harus cari pertemuan antara jalur U3 dan U6. Jadi dari Stasiun Stephansplatz kita lanjut agak jauh sampe Stasiun Westbahnhof, ganti jalur ke U6. Lanjut dan turun di Stasiun Vienna-W├Ąhringerstra├če Volksoper.

Kebetulan di dekat Airbnb kita ada tempat makan, namanya Li-Li Asia Restaurant. Kita mampir dulu lah di situ, sebelum pulang dan istirahat.

Setelah makan kita langsung pulang ke Airbnb. Saya sempat ngobrol dulu sama Bro dan Bri, tanpa Adriana, di ruang tamu mereka. Dan Si Bri nyimeng aja gitu di situ. Terus nawarin saya. Tapi saya tolak karena gak doyan. Tapi saya kasih mereka rokok yang saya bawa dari Indonesia.

Saya panik juga sih dikit. Cimeng kan ilegal kan di Vienna? Tapi menurut si Bri gak masalah selama nyimeng gak di tempat umum. Karena kalo udah di dalam rumah, itu udah bukan ranahnya polisi.

Entah~

Setelah itu saya dan Adriana istirahat. Keesokan paginya bangun jam 6 pagi. Ya, pagi banget! Hahaha. Tapi untuk ritual, saya ngga akan pernah lupa. Ngopi & rokok pagi. Yuhuuu..

Suasana pagi di depan Airbnb

Setelah itu kita pamitan sama Bro dan Bri, lanjut deh ke Bandara Vienna Schwechat.

Nah untuk rute ke Bandara Vienna, kita pake rute lain lagi nih. Yang pernah saya baca di beberapa artikel, Bandara Vienna itu udah gak termasuk pusat kota Vienna. Jadi kita gak bisa pake tiket 24 jam yang kemarin menuju ke sana. Menurut beberapa sumber, kita harus pake subway ke Stasiun Wien Mitte. Lalu pake kereta (tiketnya beli lagi) langsung ke Bandara Vienna Schwechat. Kebayang gak?

Nah detailnya kayak gini..

Pertama, kita pake subway dari Stasiun Vienna-W├Ąhringerstra├če Volksoper (U6), turun di Stasiun Westbahnhof. Ganti jalur ke U3. Turun di Stasiun Wien Mitte.

Sesampainya di Wien Mitte, kita sebetulnya masih banyak waktu. Jadi Adriana beli sarapan dulu, ke toilet dulu, dll. Kalo gue sih seperti biasa, cari tempat ngerokok hehehe..







Dari situ, kita lanjut naik kereta ke bandara yang kurang lebih ditempuh dalam waktu 45 menit.

Sesampainya di bandara, kita gak pake lama-lama karena waktu itu udah hampir jam 9. Naik ke lantai 1 (Departure), lalu langsung ke mesin cetak boarding pass dan masuk ke security checking.




Lalu kita langsung ke gate, boarding sebentar dan lalu masuk pesawat Brussels Airlines menuju Brussels Airport. Waktu itu pesawat kita adalah A319, versi pendeknya A320. Saya duduk di kursi 16F dan Adriana 16E.



Kita lanjut masuk pesawat dan duduk di kursi masing-masing. Tak lupa memakai sabuk keselamatan sepanjang perjalanan hehehe..





Yak, saatnya meninggalkan Vienna & Eropa Tengah dan memulai petualangan kita di Eropa Utara!!

Eh tapi transit dulu sebentar di Belgia. Nanti akan saya ceritain di artikel selanjutnya ya. Jangan kemana-mana, stay tuned di artikel Tempat Sampah. Semoga menginspirasi.

Makasih udah mampir, jumpa lagi di Belgia. Bye bye.. Take off dulu!


Comments

Popular Articles

Pengalaman Beli Tiket Pesawat Murah ke Hong Kong

Selamat Datang di Era Digital

Cara Membuat Visa Schengen di Kedutaan Ceko