Pengalaman Liburan ke Belanda [Part II]

Di artikel Pengalaman Liburan ke Belanda [Part II] ini, saya mau bikin review soal beberapa kota di Belanda yang pernah saya kunjungi. Saya harap artikel ini bisa berguna bagi para pembaca, khususnya travelers, yg akan berangkat liburan ke Belanda atau pun studi.

Tapi di sini, saya tidak review tempat-tempat wisata, tapi lebih per kota. Dan ini lebih ke review demografi, atmosfer, sistem transportasi, dan plus/minus aja. Bukan rekomendasi tempat yang harus dikunjungi atau dihindari.

Utrecht


Kalo dia perempuan, kota ini udah pasti saya pacarin. Saya jatuh cinta sama kota ini sejak pertama kali menginjakkan kaki di 19 Juli 2010. Tempat pertama saya mendarat di Utrecht dari Amsterdam adalah Utrecht Centraal Station, stasiun kereta api pusat & terbesar di kota ini.

Suasana Utrecht sebetulnya masih terbilang kota banget, meskipun gak seramai Amsterdam. Tapi ya, sebagaimana kota-kota besar lain, Utrecht punya banyak fasilitas umum yang cukup baik.

Di stasiun, mereka punya banyak toko keperluan sehari-hari, toko pakaian, minimarket, customer sevice yang ramah, dan macam-macam lainnya. Stasiun ini juga punya papan pengumuman petunjuk yang jelas & ngga bikin bingung. Suara petugas "halo-halo"-nya juga jelas dalam bahasa Belanda. Meskipun stasiun ini punya hampir 15 jalur rel kereta api, tapi kita gak perlu khawatir karena semuanya dijamin jelas jalurnya dengan info-inifo petunjuk yg jelas.


Utrecht juga kota yang multikultur. Pertama saya sampai di sini, saya pernah berusaha nanya sama orang pake bahasa Belanda. Eh ternyata dia gak bisa bahasa Belanda. Mereka justru pake bahasa Inggris yg broken. Tapi pas diskusi sama temannya, mereka pake bahasa yang saya kurang paham. Tapi kayaknya bahasa Spanyol atau Portugis.

Untuk bahasa Inggris sama sekali gak ada masalah di sini. Tapi mereka juga ngebales pake bahasa Belanda kalo kita ajak mereka ngomong bahasa Belanda. Beda sama di Amsterdam yang saking terbukanya sama turis, kita ngomong pake bahasa Belanda, mereka jawab pake bahasa Inggris hahaha. Kalo di Utrecht imbang lah, fleksibel.

Keluar stasiun ke arah barat, kita akan muncul di sebuah lapangan bernama Jaarbeursplein yang berbatas langsung dengan jalan raya. Kayak meeting point gitu. Di situ juga ada parkiran sepeda. Ingat, SEPEDA! Bukan mobil atau motor kayak di stasiun-stasiun di Jakarta. Ada sih beberapa mobil yang parkir, tp bisa dihitung jari. Selain itu, ada juga halte bis & tempat duduk-duduk.







Di sisi timur stasiun, kita akan menemukan Utrecht centrum! Pusatnya Utrecht.

Di Belanda, setiap kota punya centrum-nya sendiri. Centrum itu bisa dibilang pusat kota. Jadi kita bisa menemukan apapun di area itu, baik restoran, kafe, hotel, tempat belanja, toko, dll. Pusat perniagaan lebih terpusat di centrum, meskipun ada juga di luar centrum. Tapi kebijakannya, centrum tidak boleh dimasuki kendaraan selain sepeda motor kecil yg biasa dipake opa-opa dan oma-oma. Tapi gue pernah sih lihat mobil pribadi yang menurut gue itu pemilik toko atau ada kaitannya sama operasional toko. Atau kebanyakan mobil-mobil agen yang supply barang ke toko tertentu. Jadi centrum ini bersih dari kendaraan bermotor. Tapi lebih jauh lagi, centrum gak bisa dimasuki mobil karena di titik-titik tertentu, ada pembatas/penutup yang cuma bisa dilewati pejalan kaki & sepeda.

Oh ya, rata-rata centrum gak pake aspal, tp paving block (konblok kalo kata kita mah). Nyaman dibuat jalan kaki & pake sepeda.



Ada food truck jualan lumpia Vietnam




Itu tanktop pink adalah istri saya, dulu belum jadi istri tentunya 😅


Kafe di centrum Utrecht

Kiri: motor kecil opa-opa/oma-oma yang masih boleh masuk centrum

Desember 2017 ini saya berencana juga mau balik lagi ke Utrecht selama 3 hari setelah balik dari Stockholm. Ceritanya saya tulis di sini. Di situ hasil foto-fotonya udah bagus. Beda 7 tahun soalnya hahaha.

Amsterdam

Amsterdam Airport Schiphol, salah satu gerbang masuk ke Benua Eropa

Amsterdam centraal station

Casa Rosso, sebuah kios di salah satu lokalisasi paling terkenal di dunia, Red Light District


Armbrug


Damsquare

I Amsterdam



Amsterdam beda sama Utrecht. Di sini jauh lebih rame & padat. Sangat dimaklum karena kota ini adalah salah satu destinasi utama terbesar di Eropa. Kota yang unik, segala macem rupa ada, prostitusi yang legal, sex shop, coffee shop tempat orang bisa beli ganja, dan masih banyak yang lainnya.

Ngobrol soal kehangatan warga lokal, Amsterdam juaranya. Warga lokalnya terbuka banget, mungkin karena pengaruh banyaknya turis sepanjang tahun. Bahasa Inggris mereka fasih, bahkan saat kita ngobrol pake bahasa Belanda mereka akan jawab pakai bahasa Inggris.

Buat pencinta kebebasan, kota ini bener-bener The Kingdom of Freedom buat saya!

Urusan yang haram-haram & ilegal-ilegal di Indonesia, di sini semua legal! Alkohol tersebar, ganja mudah dibeli (di Belanda ganja legal), pekerja seks komersial legal & jadi pendapatan negara, toko-toko keperluan seks & porno banyak, dan lain-lain yang gak akan pernah ada di Indonesia.

Udah kepanjangan nih, saya rasa cukup 2 kota dulu review-nya, ya. Kota-kota lain akan saya tulis di artikel selanjutnya. Jangan lewatin, selalu pantengin blog Tempat Sampah. Subscribe kalo perlu, biar gak ketinggalan!

Kalo tulisannya dirasa ada yang kurang jelas, boleh ditanyain juga di kolom komentar.

Thank you udah mampir. Bye bye~

Comments

Popular Articles

Pengalaman Beli Tiket Pesawat Murah ke Hong Kong

Pengalaman Liburan ke Hong Kong [Part I]

Beli Perlengkapan Winter Wear di Jakarta