Liburan ke Lombok [Part III]

Halo pembaca Tempat Sampah, balik lagi sama saya di blog Tempat Sampah ini! Kita nulis-nulis nyampah lagi deh yuk.

Di artikel ini, saya mau bahas lagi kelanjutan trip ke Lombok. Untuk yang nggak ngikutin cerita saya dari awal, silakan cek Lombok Part I dan Lombok Part II.

Lanjut..

Di artikel sebelumnya, kami masih ada di Senggigi, tepatnya abis nongkrong di kafe Basilico Authentic Italian. Abis dari situ kami pulang ke hotel, tapi agak muter. Nyari jalan yang agak beda. Sekalian nyari hebohnya dunia malam di Senggigi.

Ternyata biasa aja, guys. Normal. Sama aja kayak di Kemang. Bedanya di Lombok kendaraan dan orang sedikit banget. Sepenuh-penuhnya kafe, ya udah, penuh gitu. Standar. Penuh. Gak desek-desekan.

Nah besok harinya adalah hari terakhir kami di Senggigi. Hari itu kami rencana lanjut ke daerah Kuta, Lombok Selatan. Sebelum lanjut ke daerah Kuta, setelah check out, kami makan siang dulu di sebuah kafe. Namanya lupa. Yang pasti ada di sebelah Matahari Cafe, sederet sama Happy Cafe. Kalo mau tau Happy Cafe, silakan baca di bagian pertama di sini.

Beberapa hari di Senggigi menurut saya cukup menyenangkan. Senggigi menurut penelitian kami, adalah sebuah kawasan wisata yang sudah cukup "dewasa". Kenapa dewasa? Di tempat ini semua kegiatan "bisnis" berjalan normal. Tidak banyak pemaksaan kehendak dari sopir, tukang dagang, pemilik kafe, dll. Kita bisa menentukan mau pergi atau makan di mana pun yang kita inginkan tanpa ada pengaruh dari pihak mana pun.

Negatifnya adalah, terutama buat yang suka sama keindahan panorama alam nih, pantai Senggigi udah gak perawan. Banyak cottage, resorts, hotel, cafe, dll. Pasir pantainya juga gak putih bersih.

Ya setiap tempat ada plus minus sih emang.

Kuta, Lombok

Setelah makan siang tadi, kita pilih naik taksi dari Senggigi ke Kuta. Ini karena gak ada kendaraan umum ke sana. Ada sih kalo cuma sekadar ke Mataram atau Praya, tapi dari situ kalo mau lanjut ke Kuta agak susah. Coba saya ilustrasikan via Google maps di bawah ini


Jaraknya yang mencapai 62 km dari Senggigi, membuat perjalanan ini memakan waktu 1 jam. Cukup membosankan. Tapi saya bersyukur, jarak segitu cuma 1 jam, dengan rata-rata kecapatan 60-80 km/jam. Coba di Pulau Jawa, terutama Jakarta, 65 km bisa berapa lama? 3 jam kali yah 😁

Dari Senggigi kami pake taksi Biru, yang di Lombok juga marak ternyata. Ongkosnya pas Rp 200.000,00

Kami langsung minta diturunkan di Family Beach Hotel, yang sudah saya book beberapa bulan sebelum kami berangkat ke Lombok. Hotel ini terletak di pinggir pantai. Punya balkon yang enak banget buat ngadem & nyantai.



Ini balkonnyaaaa.. Seru ya? 



Sebenarnya masih banyak foto-foto di balkon ini, tapi gak mau kebanyakan share ah. Mending pada cobain gih ke sana. FYI aja nih, Pantai Kuta Lombok belum banyak turis lokalnya, guys. Rata-rata bule di sini. Kesel gak? Padahal ini "rumah" kita. Tapi bule udah pada ngegas aja merawanin 😲

Yaudah lah. Nih contoh-contoh pantai Kuta yang kami ambil di deket Family Beach Hotel.

Batu-batu besar menghiasi pesisir pantai ini.


Selain batu besar, banyak perahu nelayan di sini. Kelihatan natural banget. Berasa kita bener-bener jadi warga lokal, di kampung nelayan.


Nah, yang unik dari Lombok adalah (seperti yang pernah saya singgung juga di Lombok Part I pas mau landing) pantai sama bukit itu gak kepisah. Jadi bukit kan identik jauh dari pantai. Tapi di sini beda. Di sebelah pantai udah bukit tuh. Keren banget, asli lah!





Nah gimana, guys? Tertarik? Kalo tertarik, coba aja cari Family Beach Hotel, Lombok. Waktu itu kami berdua 2 malam cuma Rp 750.000,00. Murah lah segitu buat hotel yang kelasnya beneran hotel ya, bukan guesthouse atau hostel. Cobain deh.

Liburan ke Lombok sebenarnya gak mahal-mahal banget kalo kita pinter ngatur strategi dimana kita nginap, kapan beli tiket pesawat, pake maskapai apa, di sana nyari tempat makan yang biasa-biasa aja. Sama aja kayak trip ke mana pun, contohnya Singapura, bisa mahal bisa murah. Tergantung gaya kita aja mau gimana.

Oh ya, tambahannya, di kawasan Kuta ini banyak warga lokal yang jualan. Macem-macem: kain atau gelang. Negatifnya, mereka nawarin dagangannya maksa banget, terutama sama bule. Gak bisa di-stop. Jadi agak kurang nyaman. Ini bedanya sama Senggigi seperti yang pernah saya bilang.

Nah post lanjutannya saya akan masukin tempat paling indah dari seluruh trip di Lombok ini. Jangan kemana-mana, guys!

Makasi udah mampir. Jumpa lagi di artikel selanjutnya!

Comments

Popular Articles

Pengalaman Beli Tiket Pesawat Murah ke Hong Kong

Selamat Datang di Era Digital

Cara Membuat Visa Schengen di Kedutaan Ceko