Ilmu Eksak vs Ilmu Sosial

Halo, pembaca Tempat Sampah. Ogut mau cerita dulu nih sebelum masuk ke bahasan utama. Tulisan ini juga pernah gue muat di blog lama waktu jaman kuliah dulu.

Yuk..

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pada suatu hari ada seorang ayah sedang mengambil raport untuk anaknya yang sedang duduk di bangku SMA kelas 1. Ayahnya melakukan perbincangan yang cukup serius dengan wali kelas dari anaknya.


Wali kelas: "Selamat ya, pak. Anaknya naik kelas dengan nilai yang memuaskan."

Ayah: "Wah, tidak salah saya mendidik anak saya dengan keras. Hasil akhirnya ternyata seperti ini. Saya juga ingin berterima kasih sama ibu wali kelas, karena telah membimbing anak saya hingga naik kelas. Terima kasih lho, bu."

Wali kelas: "Ah bapak bisa saja. Saya kan hanya fasilitator di kelas. Jadi ya memang anak bapak saja yang hebat. Oh iya, saya lupa memberitahukan bahwa anak bapak juga masuk jurusan IPA."

Ayah: "Masuk IPA? Wah terima kasih sekali lagi lho, bu. Anak saya sudah bisa masuk IPA."

Wali kelas: "Kan sudah saya bilang, pak, memang anak bapak yang cerdas, jadi ya bisa seperti itu. Kalau saya kan hanya memberikan semangat dan dukungan."

Ayah: "Memang dari dulu saya sangat mengharapkan anak saya bisa jadi dokter, arsitek, psikolog, pokoknya jadi orang lah, bu. Sekali lagi terima kasih loh, bu."

Lalu ayah keluar kelas..

Ayah: "Nak, nak, kamu masuk IPA, nak. Aduh bapak bangga sekali sama kamu!"

Setelah beberapa tahun anak tersebut pun hampir lulus dari sekolahnya. Ia berniat untuk ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri dimana pun semampunya.

Ayah: "Nak, kamu ikut SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru), ya. Coba kamu ambil IPA. Pilihan pertama coba kamu ambil Kedokteran UI, pilihan keduanya kamu ambil Teknik Industri UI. Nanti kamu setelah lulus akan benar-benar jadi orang loh, nak. Ingat omongan bapak ya.."

Anak: "Kenapa sih hidup aku kok jadi bapak yang ngatur? Aku udah gak kuat, pak belajar di dunia eksak. Aku kan sudah dewasa, aku ingin menjalani hidup aku sendiri, aku ingin coba untuk beralih ke ilmu-ilmu sosial, pak. Selain itu, kalau aku pilih Sastra, Arkeologi, Hukum, Akuntansi, Hubungan Internasional, dan sebagainya, sepertinya itu akan lebih menarik. Ilmu baru buat aku."

Ayah: "Nggak bisa! Kamu mau jadi apa kuliah Sastra atau Arkeologi? Ngorek-ngorek tanah? Atau jadi seorang pembangkang? Kuliah seperti itu ngga akan bikin kamu jadi orang hebat, nak! Ambillah ilmu-ilmu eksak yang memang udah jelas juntrungannya. Coba kamu ambil Kedokteran, pasti kamu akan jadi dokter. Coba kamu ambil Arsitektur, kamu juga pasti jadi arsitek. Tapi kalo kamu ngambil Sastra, mau jadi apa? Penerjemah? Pembaca puisi? Tukang dongeng? Ngga jelas sama sekali! Sudah lah lebih baik kamu ikutin perintah bapak!"

Anak: "Nggak mau!"

Kenapa seorang ayah bisa sangat egois seperti itu terhadap anaknya? Dan kenapa ilmu-ilmu eksak selalu dipandang tinggi oleh sebagian besar mayarakat Indonesia? Sedangkan ilmu-ilmu sosial dipandang sebaliknya?

Jaman dulu (jaman kolonial) saat di bumi Indonesia ini masih ada yang namanya bangsa penjajah Belanda, hal tersebut di atas kentara banget. Orang-orang Belanda benci banget sama yang namanya cendikiawan-cendikiawan di bidang ilmu sosial.

Kenapa bisa begitu?



palingpopuler.com

Belanda, pada jaman dulu masih dianggap sebagai musuh besar negara ini. Belanda bisa disebut sebagai "bangsa jahat dan licik" pada jaman itu. "Kejahatan dan kelicikan" Belanda pada jaman itu nggak boleh dibongkar dan diketahui oleh orang lain (terutama pribumi). Semua kedok, semua topeng! Memang hebat apa yang dilakukan oleh negeri Kincir Angin tersebut. Tetapi, kejahatan dan kelicikan Belanda hanya bisa dibongkar oleh cendikiawan-cendikiawan sosial. Orang-orang tersebut tau latar belakang, kejahatan, kelicikan, kejelekan orang Belanda. Karena mereka mengkaji semuanya lewat bidang sosial yang tidak bisa dilakukan oleh cendikiawan-cendikiawan eksak. Mereka mengkaji dari bidang hukum, sosial, budaya, ekonomi, dll.

Oleh karena itu, kenapa Belanda sangat membenci orang-orang ber-background sosial dan sebaliknya, orang Belanda menutupi ketakutan mereka terhadap cendikiawan sosial dengan cara sangat menyanjung tinggi orang-orang yang berilmu eksak. Hal ini menjadi mindset bagi setiap orang yang hidup pada jaman itu sampe sekarang. Sekarang orang-orang tua lebih ingin menyekolahkan anaknya di bidang eksak dari pada ilmu sosial. Itu karena sebagian besar masyarakat Indonesia masih memiliki mindset seperti itu. Keturunan dari Londo! 😁

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Secara umum, ilmu sosial dan ilmu eksak sama saja, tergantung bagaimana orang menanggapi dan menjalaninya. Tidak ada ilmu yang buruk.

Mungkin kita masih terdoktrin secara otomatis bahwa setelah selesai studi, kita harus kerja di sebuah perusahaan. Padahal... Emang harus? 👀

Alhamdulillah, meskipun bapak gua bukan seorang yg berpendidikan tinggi, tapi beliau selalu berprinsip bahwa "sekolah tinggi bukan untuk jadi orang kaya atau sukses, tapi membentuk pola pikir dan pribadi yang matang".

DUARR!! I love him so much.

Logis sekali memang bapak gua.

Jadi percuma aja lulusan Sarjana atau Magister (bahkan Doktor), dari ilmu sosial atau eksak, setelah wisuda masih menggunakan standar ganda dalam berpikir dan bertindak. Atau bahkan isi kepalanya masih logical fallacy semua. Atau malah menelantarkan orang tuanya yang sudah renta?

Intinya, ilmu sosial atau eksak gak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Semua ilmu sama-sama tak ternilai harganya. Tinggal balik lagi ke manusianya, mampu gak dia memanfaatkan ilmu yang udah dipelajari untuk kemaslahatan dirinya sendiri dan orang lain?

Sekian artikel rewritten ini. Jumpa lagi di artikel lain. Semoga bermanfaat.



Ditulis ulang dari tulisan tahun 2009. Inspired by my old-lecturer, Pengajar Program Studi Belanda FIB UI Dr. Lilie Suratminto

Comments

Popular Articles

Pengalaman Beli Tiket Pesawat Murah ke Hong Kong

Pengalaman Liburan ke Hong Kong [Part I]

Beli Perlengkapan Winter Wear di Jakarta