Buah Transportasi Jatuh Jauh dari Pohonnya

Kenapa saya kasih judul ini?

Ya, ingat Indonesia dan Belanda saudara jauh? Hubungan sejarah yang erat sampe sekarang bikin kita kalo berkunjung ke Belanda selalu dihargai & "dijamu" oleh sebagian besar warga lokal. Peninggalan Belanda melimpah di sini, juga peninggalan kita di sana yang sama-sama dirawat apik.

Belanda hampir seperti orang tua bagi Indonesia. Orang tua jauh yang mengajarkan banyak hal. Sayangnya, ngga selalu mengajarkan hal-hal baik, hal buruk juga. Bahasa, tata negara, hukum, budaya, mentaliltas, pendidikan, tata kota, kedokteran, sistem transportasi, korupsi, dan sifat permisif.

Transportasi Massal

Transportasi massal, yang akan jadi bahasan utama di artikel ini, atau mass transportation sebagai bahasa kerennya, berbeda-beda di setiap daerah. Di tiap kota di Indonesia pun bisa berbeda, apa lagi dengan kota di luar Indonesia. Di Jakarta ada bemo, misalnya. Di Jogja ngga ada bemo. Di Paris ada metro subway, di Jakarta ada TransJakarta. Di Kuala Lumpur ada monorail, di Depok ada ojek. Ya, seperti itulah.

Shutterstock

Sekadar share pengalaman dan hasil pengamatan. Bukan mau membandingkan lantas menjelekkan sistem transportasi antarnegara A dan negara B, tapi cuma menjabarkan dari kaca mata pengguna sistem itu sendiri untuk memberi pengetahuan kepada khalayak ramai. Artikel ini lebih kepada memberikan pemahaman nenek lu yang komprehensif soal sistem transportasi antarnegara. Apalagi ini kaitannya antara negara koloni dan negara yang mengkoloni.

Kurang lebih 7 tahun lalu. Pertama kalinya saya ke Eropa, tepatnya Utrecht, Kerajaan Belanda. Karena saya ngga mungkin bawa motor ke sana, mau nggak  mau kita pasti pake transportasi umum, yaitu pesawat terbang. Sesampainya di Amsterdam Airport Schiphol pun, saya masih menggunakan transportasi umum untuk menuju tempat bermukim selama 1 bulan lamanya. Nah di sini banyak pengamatan yang saya lakukan soal transportasi massal di Belanda.

Bandar Udara


Bandar Udara Amsterdam Schiphol (AMS) ini merupakan salah satu bandara terbesar di Eropa. Bandara ini juga menjadi salah satu pintu gerbang dari dan ke Eropa. Terletak 9 kilometer di sebelah barat daya pusat kota Amsterdam, bandara ini menangani hampir semua penerbangan ke seluruh dunia. Info juga, maskapai Garuda Indonesia juga sudah kembali beroperasi ke bandara ini mulai 2010 setelah dulu sempat dilarang "hinggap" di kawasan udara Eropa.

Garuda at Schiphol (youtube.com)

Nah, sekarang apa bedanya bandara Schiphol ini dan bandara Cengkareng kalo diperhatikan? Bandara Schiphol ini punya beberapa akses langsung dari bandara ke kota mana pun di seluruh penjuru negara. Di sana ada KRL yang disebut NS (Nederlandse Spoorwegen): sejenis PT. KAI di Jabodetabek. Ada juga bis, taksi, atau pun mobil sewaan. Ini jelas memudahkan para pelancong.


Selain itu dari sisi budaya, warga Amsterdam sangat ramah dan terbuka kepada turis. Mereka juga mahir berbahasa Inggris. Jadi buat yang nyasar di sana ngga perlu panik karena nggak bisa berbahasa Belanda.

Di Bandara Cengkareng kebetulan belum ada KRL langsung ke pusat kota-kota. Isunya proyek ini sudah jalan dan mulai beroperasi sekitar bulan Juli tahun ini. Jadi untuk pelancong saat ini baru bisa memanfaatkan fasilitas taksi dan bis Damri saja.

Nah, sekarang kita keluar dari bandara Amsterdam Schiphol, yuk!


Sepeda

Lucunya, di seluruh penjuru Belanda, kita bisa dengan mudah menemukan jalur sepeda. Jalur sepeda yang dalam bahasa disebut fietspad ini kalau tidak salah terbentang sepanjang 1200-an kilometer di seluruh penjuru negeri. Sebetulnya di luar Belanda, jalur sepeda juga terus terbentang sampai ke Belgia. Tapi saya ngga akan bahas lebih jauh sampai ke Belgia.

Jalur sepeda ada di seluruh pinggir jalan raya (kecuali jalan tol) di Belanda. Aspalnya berwarna merah, seperti foto di bawah ini.



Konon jangan dibalik, dari seluruh total populasi manusia di Belanda yang kira-kira mencapai 20 juta, jumlah sepeda bisa sampe dua kali lipatnya, lho. Untuk keluarga standar, di rumah cuma diperlukan 1 mobil dan 3 sepeda. Tempat penyewaan sepeda juga banyak tersebar di seluruh penjuru kota, terutama di dekat pusat kota atau dekat stasiun. Di beberapa lokasi juga banyak tempat penitipan sepeda, sehingga sepeda jadi moda transportasi paling populer di Belanda.

Oh ya, sebagai informasi, di sini juga kebanyakan orang maling sepeda, bukan maling mobil 😁


Lalu apa kabar Jakarta? Apa ada jalur sepeda?

news.detik.com

Yang saya ingat, kita punya kok jalur sepeda. Ada di bawah jalan layang Antasari dan di Kampus UI. Itu pun nggak dimanfaatin secara maksimal karena pengguna sepeda pasti takut karena jalur sepeda yang digabung bersamaan dengan jalan raya persis. Bisa-bisa keserempet.

Tapi kalau di Kampus UI cukup banyak penggunanya. Tapi waktu saya kuliah dulu lebih suka jalan. Tapi jalannya di jalur sepeda haha.

Jalur Sepeda di UI Depok (mapio.net)

Bis Kota

Ngomong soal bis, saya ngga banyak menyadari karena waktu itu terlalu sering pake bis charter dari lembaga yang menaungi summer course selama di Belanda. Jarang banget pake bis umum. Kadang saya dan beberapa teman coba pergi pake bis umum, di luar dari program kampus, cuma buat tau rasanya pake kendaraan umum.


Dok. Adriana 2016

Menurut pengamatan saya dulu, seluruh bis antarkota di Belanda dimonopoli oleh perusahaan yang bernama "Connexxion". Isunya ini perusahaan asal Prancis. Selain bis yang bertuliskan "Connexxion" ini saya belum lihat, kecuali bis-bis dari perusahaan lain yang melayani perjalanan jarak menengah dan jauh.

ov-chipkaart-kopen.nl

Tiket bis bisa dibeli pre-order via website, bayar di dalam bis, pake strippenkaart (semacam kartu abonemen yang akan dicap oleh supir sesuai jarak perjalanan), dan OV-Chipkaart (kartu abonemen yang pake chip, bisa diisi ulang).

Strippenkaart (sightofthenavigator.com)

OV-Chipkaart (zuinigaan.blogspot.com)

Bis ini nyaman banget. Berhenti di setiap halte sesuai trayek. Semua perjalanan sudah diatur dengan jadwal yang sangat ketat. Semua supirnya seperti robot, jadwal jam berangkat, ya berangkat lah bis itu.


de.wikipedia.org

Lalu gimana dengan bis kota yang ada di Jakarta? Hmm....

Taksi

Di Belanda dan di Indonesia harga taksi sama-sama nggak murah. Sebetulnya balik lagi, tergantung jarak tempuh. Di Jakarta kita bisa naik taksi di mana pun. Di Belanda, sesuai pengamatan saya, jarang ada taksi mangkal. Kecuali di tempat-tempat umum. Biasanya kalo mau pake taksi, kita harus telepon dulu buat pesan. Soal harga, untuk jarak dekat di tahun 2010, sekitar € 7 - € 20.

holland.com

Kereta Api

Saya sudah singgung di atas soal KRL di Belanda. Perusahaan yang menaungi kereta api namanya NS (Nederlandse Spoorwegen). Sepengamatan saya, KRL di Belanda seragam. Sama juga sih kayak di sini. Tapi di sana warnanya didominasi biru & kuning di bodinya. Trayeknya ke seluruh penjuru negeri, baik pusat maupun pinggiran kota. NS yang saya pernah gunakan ada dua: satu lantai dan dua lantai.



Pembelian tiket sama kayak bis. Bisa beli di ticket counter, pake OV-Chipkaart, dan strippenkaart. Tapi sejujurnya, naik kereta di Belanda ngga pernah diperiksa. Saya dulu sempat mau coba buat gak beli tiket. Tapi serem juga ah, takut kena masalah.


dutchbuttonworks.com

Pengalaman yang sangat amazing saat itu terkait transportasi massal adalah ketika pertama kali saya sampe di Amsterdam airport. Kita harus lanjut ke tempat tujuan dengan kereta api. Di ticket counter saya tanya ke ibu-ibu penjaga loket,

Saya: "Hoelaat zal de trein naar Utrecht komen?" (jam berapa kereta ke Utrecht datang?)
Loket: "Veertien over zeven" (jam 7.14)

Lalu saya jalan ke peron sesuai instruksi penjaga. Peronnya ada di bawah tanah dari bandara itu. Sepanjang perjalanan menuju peron, saya mikir keras, "tanggung amat ya kereta dateng jam 7.14. Gue pikir paling kereta itu bakal datang yah 7.15 deh. Paling parah ya 7.30."


Tapi waktu itu, saya juga gak mau main-main di negara yang baru didatangin. Salah-salah bisa telat. Berabe urusannya. Jadilah saya sudah nunggu di peron dari jam 7 lewat 5.



Di atas ini adalah salah satu timetable di peron di atas kepala saya waktu itu. Tertera sama seperti ucapan ibu penjaga loket, jam 7.14.

Namanya orang Indonesia, yang udah biasa banget sama hal-hal ngaret dari transportasi massal, saya melongo ketika kereta berwarna biru kuning berhenti di depan badan saya TEPAT jam 7.14. Saya lihat juga jam di peron menunjukkan waktu yang sama.

Lalu jam di timetable di atas kepala gue udah berubah jadi 7.16 yang menunjukkan waktu keberangkatan kereta gue tersebut.

Itu sangat amazing!

Demikian "buah transportasi" yang bisa saya jabarkan yang jatuh sangat jauh dari pohonnya. Saya selalu memimpikan Indonesia bisa punya sistem transportasi yang setidaknya mirip lah kayak Belanda.

Mari kita doakan saja semoga negeri ini bisa mengikuti jejak orang tua jauhnya dari segi kedisiplinan.

Terima kasih udah mampir. Kalau ada yang mau ditanyakan atau dikritik, silakan coret di kolom komentar.

Jumpa lagi di artikel selanjutnya. Bye

Comments

Popular Articles

Pengalaman Beli Tiket Pesawat Murah ke Hong Kong

Selamat Datang di Era Digital

Cara Membuat Visa Schengen di Kedutaan Ceko