Monster Kehidupan

Semenjak selesai studi dari kampus dan menelusuri Jakarta demi mencari makan, saya merasa benar-benar ada di "luar rumah". Saya banyak melihat kejanggalan, kebrengsekan, ketidak-teraturan, ketidak-jelasan, keberantakan, kehancuran, dan kepesimisan. Contoh kecil seperti macetnya Jakarta setiap hari yang sampai sekarang belum juga terpecahkan. Bayangkan, mungkin isu macet ini sudah didengungkan dan dirasakan banyak orang dari 10 tahun yang lalu (mungkin). Tapi sekarang, makin parah.
Di jalan, pada jam-jam sibuk, bahkan gue nggak bisa ngeliat bentuk jalanan itu sendiri. Yang terlihat cuma kendaraan roda empat dan roda dua. Mereka menutupi wajah jalanan. Kalau jalanan kosong, mereka kebut-kebutan dan masuk busway. Kalo macet, mereka juga masuk busway, pemotor masuk trotoar, pemobil juga masuk busway. Pengguna kendaraan umum kayak gue cuma kipas-kipas kegerahan di dalam bus yang nggak ber-AC dan melihat monster-monster itu kalang kabut di jalanan.
Di trotoar, orang berjualan. Tukang rokok, tukang tambal ban, tukang kopi, tukang warung, tukang apapun ada. Tukang tipu juga banyak di trotoar. Trotoar berubah fungsi. Fungsi utama trotoar adalah tempat pejalan kaki. Sekarang jadi tempat berjualan, tempat pemotor memotong jalan, tempat mengemis, tempat mengamen, dan sebagainya. Bahkan pejalan kaki udah ngga mau dan ngga bisa lagi jalan di trotoar.
Orang berlomba-lomba beli kendaraan yang harganya udah terjangkau banget, bahkan untuk pengangguran sekalipun. Mereka merasa mampu beli kendaraan, entah roda dua atau roda empat. Mereka menjajal motor atau mobilnya di jalan raya, untuk mereka pergunakan untuk beraktivitas, atau cuma sekedar jalan-jalan iseng buang bensin. Saking banyaknya orang beli kendaraan di Jakarta, membuat jalanan di Jakarta makin semrawut. Makin ngga ada celah untuk bisa ngebut. Pejalan kaki yang mau menyebrang jadi makin takut.
Pengguna kendaraan di jalan makin tidak beradab. Mereka mementingkan urusannya. Memang iya sih, realistis. Tapi mereka nggak mikir kalo setiap kepala keluarga beli 3 unit kendaraan, jalan di Jakarta makin ngga karuan. Pejalan kaki pun ngga punya celah buat nyebrang. Mereka ngebut. Mereka ngga takut celaka, lho. Mereka tidak pakai helm. Mereka tidak punya SIM. Mereka tidak pakai seatbelt.
MONSTER!!


Di dalam kendaraan umum, contoh bus-bus yang tak ber-AC. Penggunanya kepanasan karena global warming. Kipas-kipas. Ada juga yang merokok di dalamnya. Bau badan semerbak. Bau emisi mesin diesel semerbak. Pengemis dan pengamen keluar-masuk.
Pengemis itu siapa sih?

Pertanyaan seru. Pengemis adalah orang-orang yang dipekerjakan oleh "gembongnya" dan disebar ke seluruh penjuru kota untuk meminta uang kepada orang. Jobdesc mereka di jalan hanya duduk, berdiri, tiduran, bawa kertas berisikan kata-kata mutiara yang dikorupsi dari kitab suci agama tertentu, mereka tidak melakukan apa-apa. Cuma membawa kantong, gelas, plastik kosong untuk diisi dengan uang pemberian orang-orang yang mudah iba (baca: bodoh) terhadap mereka. Mereka berdandan seperti orang yang benar-benar miskin, mereka menggunakan pakaian lusuh dan dekil, kadang membawa bayi (bayinya bisa fiktif, yaitu bayi sewaan dari ibu yang kepalang idiot dan mengharap imbalan murah), kadang mencoret bajunya dengan pewarna buatan seperti darah, kadang menggunakan perban di kaki atau di tangannya, atau terkadang mereka rela bersandiwara dengan cara apapun seolah-olah mereka CACAT.
Itu semua dilakukan supaya orang iba dan memberikan seribu atau dua ribu. Padahal kekayaan mereka jauh lebih besar dari kekayaan karyawan kantoran. Bodoh bukan? Iya, di sini semua orang (hampir) bodoh.

Comments

Popular Articles

Pengalaman Beli Tiket Pesawat Murah ke Hong Kong

Pengalaman Liburan ke Hong Kong [Part I]

Beli Perlengkapan Winter Wear di Jakarta