Pengalaman Euro Trip 2017 Part XI [Amsterdam]

Halo, pembaca! Jumpa lagi di blog Tempat Sampah Palsu! Hehe, udah 2 minggu gak nulis nih. Lagi sibuk sama urusan perdokumenan-yang-never-ending-gara-gara-istri-lu-warga-negara-asing.

Sekarang kita lanjut dulu cerita Euro Trip-nya. Di artikel terakhir, saya dan Adriana ada di sebuah kota kecil di pinggiran Stockholm, bernama Märsta. Setelah dari situ kami ke bandara Stockholm Arlanda dan terbang ke Amsterdam.

Artikel sebelumnya bisa dibaca di Pengalaman Euro Trip 2017 Part X [Märsta].

Kali ini perjalanan kami berlanjut di Negeri Kincir Angin. Negara asing pertama yang saya kunjungi dalam hidup. Ini kali kedua. Negeri ini punya banyak sekali cerita dan rasa buat saya pribadi: manis-asam-asin. Macam-macam.


Di sini saya sediakan dulu cuplikan rangkuman video singkatnya. Video editor abal-abal is in the house yo!


Amsterdam, 17 Dec 2017

Dag, Amsterdam! Saya berjumpa lagi dengan Amsterdam setelah tujuh tahun. Dan kali ini pertemuan kami ada di lain musim. Dulu kami berjumpa untuk pertama kalinya di musim panas tahun 2010. Kisah singkatnya bisa dibaca di Pengalaman Liburan ke Belanda. Not good, karena cerita itu saya tulis di tahun 2017. Sedangkan kejadiannya di 2010, banyak yang miss.


Sepulang dari Belanda 2010 lalu, saya selalu mengidam-idamkan pergi ke Belanda lagi. Saat itu saya benar-benar jatuh cinta dengan Belanda. Mungkin karena pertama kalinya pergi keluar negeri juga dan banyak melihat perbedaan yang lebih baik di sana dibanding di negara sendiri.

Di tahun 2011, saya menyerah karena tidak punya cara untuk bisa pergi ke Belanda lagi. Selain dulu masih kuliah (gak punya duit pastinya), waktu itu juga cari-cari beasiswa pascasarjana di Belanda, yang rata-rata mewajibkan pelamar sudah punya pengalaman kerja minimal 2 tahun. Tapi di situ saya bertekad dan yakin bahwa suatu saat nanti saya akan kembali lagi ke Belanda, entah kapan.

Ternyata Tuhan mengijinkan saya kembali ke Belanda tujuh tahun kemudian, bareng istri tercinta. Dan bukan dari Jakarta, tapi dari Stockholm. Tuhan memang sungguh misterius untuk bikin jalan cerita manusia. Tapi yang paling penting, jalan cerita yang Tuhan buat selalu menyenangkan.

Landing di Amsterdam, kami turun dari pesawat B737-800 milik Norwegian Air Shuttle lalu menyusuri koridor Bandara Schiphol Amsterdam. Nostalgia pun dimulai dari sini!

Entah kenapa saat itu saya benar-benar excited begitu pesawat landing di Amsterdam. Saya berasa kembali ke tahun 2010 waktu pertama kali ke sini. Selain itu, gak nyangka ternyata saya bisa ada di Negeri Kincir Angin yang punya banyak cerita ini.



Karena kami terbang dari Stockholm, penerbangan ini domestik Schengen, jadi gak ada pemeriksaan imigrasi setelah kami keluar dari gate.



Cek foto 7 tahun lalu di bawah dengan background ini lagi gerek koper bareng teman-teman seperjuangan 😂

Flash back 7 tahun lalu


Amsterdam selalu punya cerita buat setiap orang yang berkunjung. Beneran!


Tujuan utama kami di Euro Trip kali ini sebetulnya Utrecht. Tapi Utrecht dan Amsterdam berdekatan, jadilah kami mau main dulu di Amsterdam. Karena mau gak mau kita pasti landing di Amsterdam sebelum ke Utrecht. Ibarat mau main ke Bogor, mau gak mau landing di Jakarta dulu toh?


Setelah rasa kangen terpuaskan di Amsterdam Airport Schiphol, saya dan Adriana langsung beli tiket kereta menuju Amsterdam Centraal Station. Memori kami juga masih tertinggal sedikit di centrum Amsterdam, sehingga berangkatlah kami sore itu ke sana.


Ada hal lucu di sini. Dulu di tahun 2010, kalo kita beli tiket single trip macam di atas ini, gak perlu tap in/tap out. Jadi setelah beli, ya langsung naik ke dalam kereta. Kecuali kita pake OV-Chipkaart (kartu abonemen), baru mesti tap in dan tap out. Tapi tahun ini beda. Persis ticketing system di kereta Jabodetabek. Harus tap in/tap out!

Petugas kondektur menghampiri di dalam kereta untuk pengecekan tiket dan beliau bilang, tiket kami belum di tap in di stasiun Schiphol. Tapi mas-mas petugas sepertinya paham bahwa kami berdua turis, jadi beliau cuma senyum. Meskipun kami panik. Takutnya di Stasiun Amsterdam Central, kami gak bisa keluar karena (takutnya lagi) sistem akan baca tiket kami sebagai tap in, bukan tap out.

Tapi ternyata kami bisa keluar di Stasiun Amsterdam Central. Lancar jaya, tanpa masalah.

Suasana di dalam stasiun juga hangat. Berasa Desembernya. Tujuh tahun lalu saya gak sempat merasakan atmosfer langit gelap karena saat itu musim panas. Matahari baru tenggelam di atas jam 9 malam. Nah di tahun 2017 ini, kebetulan musim dingin, jam 4 aja udah gelap dan dingin. Jadi atmosfer di dalam stasiun dengan dihiasi lampu-lampu macam ini, seperti dihujani kehangatan.



Karena lapar belum makan siang (meskipun sudah gelap), kami langsung mengunjungi rumah makan Indonesia: Bunga Mawar di Jalan Zeedijk, Amsterdam. Tujuh tahun lalu, saya pun sempat berkunjung ke tempat ini. Yang jaga masih ibu-ibu yang sama dengan yang dulu, sekaligus pemilik rumah makan ini.

Begitu masuk, saya langsung disapa oleh si ibu, yang saat itu baru saya tau bahwa namanya Ibu Yana, "goedemiddag, eh selamat sore". Bu Yana terbiasa mengucap salam dalam Bahasa Belanda karena pengunjungnya ya kebanyakan orang Belanda. Mungkin pertama kali beliau lihat Adriana, tapi begitu lihat muka saya yang kelam seperti kuah rendang, barulah "selamat sore" dikeluarkan 😅


Tahun 2017

Tahun 2010. Hiasan dindingnya gak berubah.


Meskipun ada pelanggan lain yang lagi makan, gak pake malu langsung saya tembak, "ibu apa kabar? masih ingat saya?" Bu Yana bengong seribu bahasa. Mungkin dalam hati, "ini bocah gondrong ngapa yak? siapa dah? sok kenal banget!"

Percakapan berlangsung seperti ini
Ibu Yana: "Eee... siapa ya?"
Saya: "Tujuh tahun lalu saya ke sini, bu, sama teman-teman dari Indonesia!"
Ibu Yana: "Waduh, orang Indonesia yang ke sini banyak kan. Hehehe tiap minggu pasti ada. Atau kalo lagi musim liburan, bisa tiap hari ada."
Saya: (Merasa gagal untuk bikin kejutan) "Yah, pokoknya saya ke sini dulu, bu, sama teman-teman dari UI. Saya belum berubah kok, dulu juga gondrong."
Ibu Yana: "Oooh, iya iya hehehe. Duduk dulu. Emang dulu tinggalnya di mana pas di sini?"
Saya: "Di Zeist, Utrecht."
Ibu Yana: "Oh gitu. Terus ini temannya juga yang tujuh tahun lalu?" (nunjuk Adriana)
Saya: "Dia bagian dari peserta kursus juga waktu itu memang, tapi waktu itu dia gak ikut ke sini. Dari situ kita berjodoh."
Ibu Yana: "Wah keren banget. Jodoh gak ada yang tau ya hahaha. Terus nanti kamu mau tinggal di Belanda apa di Indonesia?"
Saya: "Oh nggak bu. Saya sepertinya ikut istri, di Slovakia atau di Ceko. Rencana tahun depan. Belanda cuma tempat berjumpa aja, bukan negara asal kita berdua."
Ibu Yana: "Waduh, bisa begitu ya. Jadi mbak ini bukan dari Belanda? Kok kamu berdua ngobrolnya Bahasa Belanda?"
Saya: (Sudah lapar berat) "Yah, kalo dijelaskan memang akan panjang banget, bu hehehehe..."
Ibu Yana: "Hahaha ya sudah, mau pesen apa nih?"


Harga ini juga sepertinya belum berubah lho dari tahun 2010


Nggak banyak waktu yang kami habiskan di Amsterdam hari ini. Cuma sekadar perjalanan nostalgia keliling-keliling pusat kota yang dulu pernah saya dan teman-teman lakukan di tahun 2010.

Sayangnya kali ini, saya ada di Bulan Desember. Saat itu suhu mencapai 2-3 derajat dan matahari sudah lenyap meskipun masih sore. Maklum musim dingin. Jadi agak kurang bisa menikmati kota seperti di musim panas dulu.

 
Nationaal Monument


Koninklijk Paleis Amsterdam - Royal Palace Amsterdam

Madame Tussauds Amsterdam



Kawasan Red Light District Amsterdam

Dua jam keliling pusat Kota Amsterdam, kami pun memutuskan kembali ke Stasiun Amsterdam Central untuk menuju tempat istirahat kami di Utrecht. Kami janjian dengan pemilik Airbnb di Utrecht jam 9 malam itu. Jadi, paling tidak, kami harus berangkat dari Amsterdam jam 7.


Kali ini, setelah beli tiket ke Utrecht Centraal Station, kami ngga lupa lagi untuk tap in. Jadi buat kalian yang mau ke Belanda dan udah lama banget gak ke sana, kalo naik kereta jangan lupa tap in dan tap out ya. Tap in di stasiun keberangkatan dan tap out di stasiun ketibaan.



Kami lanjutkan perjalanan ke Utrecht Centraal Station. Durasi kurang lebih 30 menit dari Amsterdam.

Oh iya, di Utrecht kami dapat Airbnb yang enak banget, lho! Satu rumah vertikal tipikal Belanda fully furnished. Berasa jadi warga lokal. Btw, Adriana selalu punya good taste kalo pesen penginapan. Kalo gua mah katro ehehe. Contohnya penginapan kita di Stockholm tuh. Itu saya yang pesan. Lihat hasilnya. Bisa dibaca di artikel ini. Not bad sih, tapi ada aja kurangnya kalo saya yang pesen. Jadi kami berdua berkesimpulan, ke depan semua penginapan saat jalan-jalan, harus Adriana yang book.

Untuk ulasan soal Airbnb di Utrecht ini akan saya tulis di artikel selanjutnya ya. Sekalian lihat isinya kayak gimana. Pasti kalian ngiler. Siapa tau juga bisa jadi rekomendasi kalo kalian mau nginap di Utrecht.

Thanks udah mampir. Jumpa lagi ya!

Comments

Popular Articles

Pengalaman Beli Tiket Pesawat Murah ke Hong Kong

Beli Perlengkapan Winter Wear di Jakarta

Pengalaman Liburan ke Hong Kong [Part I]