Pengalaman Euro Trip 2017 Part IX [Helsinki]

Dear, pembaca Tempat Sampah Palsu!

Jumpa lagi di artikel lanjutan dari Pengalaman Euro Trip 2017 Part VIII [Stockholm]. Kali ini saya akan nulis petualangan kami di Helsinki, Finlandia selama seharian (gak penuh).


Selamat datang di Finlandia! Negara di Eropa Utara dengan suhu yang lebih rendah dari rata-rata suhu di mainland Eropa. Dan negara dengan struktur bahasa yang aneh seperti alay 😅

Oh iya, cerita di artikel ini mungkin gak akan banyak karena kami di Helsinki juga gak lama. Kami berlabuh jam 10.30 pagi (GMT+2) dan kembali masuk kapal sekitar jam 4.00 sore dan kembali ke Stockholm.

Seperti yang sudah saya jelaskan di artikel sebelumnya, kami bermalam di kapal Tallink Silja karena perjalanan laut dari Stockholm ke Helsinki ditempuh dalam waktu sekitar 12 jam. Buat yang mau tau gimana kita dapatin tiket kapal "Titanic" ini? Harganya berapa? Etsss, GRATIS! Coba baca lagi di artikel saya soal Gratis Berlayar di Laut Baltic.

Helsinki, 16 Dec 2017

Bangun pagi sekitar jam 8an. Buka gorden, langit masih terpantau haru biru. Belum ada tanda-tanda matahari mau naik. Saat itu posisi kapal masih ada di perairan Laut Baltic. Out of nowhere. Nggak nowhere juga sih. Pokoknya ada di sini nih


Dikit lagi mau sampe. Mungkin 1-2 jam lagi. Sambil nunggu sampe, kita ke restoran dulu untuk sarapan. BTW, tiket kami sudah termasuk sarapan gratis ya. Eh tapi sarapan aja, gak ada yang lain. Tapi kalo mau minuman segar, di kamar udah disediakan di dalam kulkas. Tinggal ambil.

Saya dan Adriana rapih-rapih dulu baru kita ke dek bawah buat sarapan. Jadi restoran tempat sarapan kita itu adalah sebuah restoran Italia. Restoran ini emang udah ditunjuk untuk menyediakan sarapan kita. Sebetulnya kapal ini juga punya restoran sendiri yang menyediakan sarapan untuk penumpang umum. Tapi waktu itu saya ke sana, katanya gak bisa makan di situ, karena kami udah ada fasilitas gratis di restoran Italia itu. Bisa aja sih, tapi harus bayar. Paling murah 30an EUR. Mau?? OGAH!


Setelah makan, saya ke dek paling atas, lantai 12. Seperti biasa. Ini adalah smoking area hehehe. Sedangkan Adriana ke kamar, beres-beres karena bentar lagi kapal kita akan berlabuh di Helsinki.

Beberapa saat kemudian, langit pun makin terang dan kami sudah bisa melihat pulau-pulau Finlandia yang tersebar cantik. Ini menandakan kita makin dekat dengan Helsinki!






Yak, akhirnya kami pun sampai di Helsinki. Apa yang ada di pikiran saya waktu itu adalah tidak lain dan tidak bukan, "ini negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia!"

Keluar dari kapal saya terkejut dengan suhu di Helsinki. Dingin banget! Mirip-mirip seperti di Stockholm, tapi di sini lebih dingin! Asumsi saya waktu itu suhu mencapai -7⁰C. Jadi sepanjang perjalanan di Helsinki, kita gak pernah lupa pake kupluk dan sarung tangan. Jangan sampai kejadian brain freeze di Antwerp terjadi lagi 😭

Kalo mau tau kisah lengkapnya soal pengalaman brain freeze bisa dibaca di Pengalaman Euro Trip 2017 Part VII [Antwerp] ini.

Sesampainya di Helsinki, kita langsung keluar Pelabuhan Olympia Terminaali ini dan jalan menyusuri pinggiran laut di kawasan South Harbour.




Kami menemukan sebuah Christmas Market kecil di sini. Tapi lumayan buat lihat-lihat, siapa tau ada penghangat badan. Maklum suhu saat itu lagi sekitar -7⁰C. Sarung tangan aja gak cukup bahkan.



Esplanadi

Belahan jiwaku


Dari situ kami jalan terus ke arah Esplanadi sebuah taman kota yang cukup menarik buat foto-foto. Dinginnya parah euy! Ga kuat! Emang gak turun salju sih, cuma ada salju-salju bekas aja di pinggir jalan. Tapi dinginnya gila-gilaan!





Leher aja sampe dikunci, biar gak dingin haha

Selanjutnya kita jalan-jalan keliling kota Helsinki. Keliling di antara gedung-gedung yang menurut Adriana mewah tapi dingin & depresif. Menurut saya juga begitu. Helsinki seperti gak punya jati diri. Pengaruh post-komunis masih ada banget di sini, terutama kalo kita lihat bangunan-bangunannya. Depresif, gak berwarna. Beda sama di Stockholm.

Lihat bangunan stasiun di bawah ini. Betapa komunisnya style dan warna bangunan ini! Berasa lagi di Rusia! 😅


Lanjut deh jalan-jalan...








Di suatu titik kita sampe di sebuah lapangan luas. Tempat ini namanya Rautatientori. Seperti di kota-kota di Eropa secara umum, ini adalah sebuah lapangan luas depan stasiun. Rata-rata stasiun sentral punya lapangan di depannya. Bukan lapangan bola ya. Square aja gitu. Biasanya kalo ada event-event tertentu ya lapangan ini dimanfaatkan. Nah, saat kami di sana, lapangan ini dimanfaatkan untuk ice skating. Btw di lapangan ini juga ada patung Aleksis Kivi, seorang penulis terkenal di Finlandia.

Menara itu bagian dari central station yang disebut Helsingin päärautatieasema (susah yak)




Aleksis Kivi



Dari sini kami coba masuk ke stasiun central tersebut. Tujuannya adalah kami ingin cari peta gratisan yang biasa dicari turis-turis. Siapa tau dapat, lumayan. Karena sepanjang perjalanan di mana dan kemana pun kecuali di Indonesia, kami gak pernah memanfaatkan fasilitas internet. Kecuali lagi ada di hotel atau di rumah. Karena kita cuma memanfaatkan wifi aja hahaha. Adventure kan!


Kami sempat ngopi-ngopi di sebuah coffee shop di depan stasiun ini. Cukup lama kita di sini karena sekalian menghangatkan badan. Kondisi suhu di luar ruangan buat saya udah gak masuk akal lagi untuk ukuran badan orang tropis.

Nah, seperti yang saya sebut di artikel sebelumnya, membahas soal persoalan sosial di negara-negara maju, Helsinki juga gak luput dari kasus ini. Di Stockholm ada pengemis di beberapa tempat. Di Helsinki, ada orang yang minta sumbangan!

Jadi ini terjadi pas saya lagi ngopi. Inget, saya ngopi di dalam coffee shop, di dalam ruangan. Harusnya tempat itu bersih dari "pengamen" atau "pengemis". Dan kondisinya saat itu saya lagi ada di salah satu kota di negara maju dengan sistem pendidikan terbaik!

Adriana lagi ke kasir minta garpu dan gula. Tiba-tiba dari samping saya ada laki-laki, pake kupluk dan sweater, tanpa coat datang ngomong pake Bahasa Finlandia. Tangannya sambil menengadah ke atas, tanda meminta. Terus saya liatin ini orang dan saya bilang, "what? Sorry, I don't speak Finnish." Dia gak bisa bales pake Bahasa Inggris. Tapi dia makin gencar dengan bahasa tubuhnya, seolah minta sesuatu. Sesaat kemudian dia ngeluarin kertas dan dikasih liat ke saya. Kertas itu sepertinya fotokopian ada beberapa foto anak kecil. Yang saya tangkep, dia minta sumbangan untuk anak-anak di kertas itu. Tapi agak aneh karena mintanya maksa sampe masuk-masuk ke kafe. Menurut saya ini aneh.

Kebetulan saya ada recehan di kantong, sekitar 2 EUR sekian sen. Saya kasih aja 2 EUR itu. Karena di tangan saya masih ada beberapa koin sen juga, dia kayak nunggu ngarepin itu dikasih ke dia juga. Terus saya pikir, "nih orang dikasih hati minta jantung." Terus saya isyaratkan ke dia bahwa saya gak mau kasih lagi. Cukup 2 EUR itu aja. Lalu dia pergi tanpa bilang "thank you" yang lazim banget diucap terhadap kepada orang yang gak ngerti mother tongue lo.

Istri saya nanya, tadi itu siapa. Saya bilang itu scam, minta duit. Gua kasih aja 2 EUR, mungkin dia lapar. Bini gua nyangka itu orang di sebelah meja.

BTW Finlandia pake EUR ya, beda sama Stockholm. Jadi di Helsinki, kita gak tuker-tuker uang lagi. Karena main currency yang kami bawa ya EUR sama CZK.

Oh ya, setelah dari sini kami sempat pergi ke sebuah gereja yang katanya unik. Kok katanya?

Ya, kami gak bisa masuk, lagi tutup. Gereja ini namanya Temppeliaukion kirkko atau Gereja Temppeliaukion. Gereja ini modelnya mirip rumah Teletubbies. Di atasnya ada rumput-rumput dan batu-batu gitu. Kami sempat naik ke situ, tapi gak bisa masuk ke dalamnya karena tutup. Waktu itu juga ada rombongan turis asal Jepang sepertinya. Mereka juga gak jadi masuk karena tutup. Di sini kami gak ada foto, karena jujur aja, saya udah gak bisa ngeluarin tangan lagi dari sarung tangan. Saya nyerah! Suhunya gak wajar!

Dari sana, kami muter-muter lagi. Udah tau dingin, tapi masih muter-muter yak? 😅 Abis sayang banget. Kita cuma seharian doang di Helsinki, masa gak maksain buat muter? Sorenya kan kita balik lagi ke Stockholm.

Rencana awal cari makan, tapi gak nemu-nemu yang sesuai keinginan. Waktu itu kita berdua lagi pengen banget makanan Italia, pizza atau spaghetti, atau apa lah yang pedes. Beberapa menit kemudian, kami nemu restoran Italia di dekat stasiun central tadi, namanya Santa Fe. Di sini menunya enaaaak!


Setelah makan, kita menjelajah Helsinki lagi. Agak khawatir telat balik ke kapal juga sih karena habis makan itu langit udah mulai gelap. Sekitar jam 3an sore lah.


Akhirnya kita berlabuh aja di sebuah Christmas Market yang lebih besar dari yang di awal tadi. Ada di sebuah square, tepatnya Senate Square. Di sana disebutnya Senaatintori. Di sini agak "hangat". Bukan suhunya, tapi di sini rame, banyak orang. Dan muka-muka mereka happy semua. Ya, rata-rata orang kalo lagi di Christmas Market mukanya happy-happy sih. Seneng kali ya, banyak jajanan, makanan, minuman, dan souvenir hehehe.








Capek dan sudah cukup kedinginan, ditambah hari sudah mulai gelap, lebih baik kita balik ke pelabuhan. Jangan sampe ketinggalan kapal juga haha. Dari Senaatintori ke pelabuhan jaraknya gak jauh, jalan kaki cuma 15 menit lah.


Sampailah kita di Olympia Terminaali: Port of Helsinki!


Ini kapal yang akan kita tumpangi balik ke Stockholm

Sebelumnya ngantri dulu bareng penumpang lain. Oh iya, di sini kita gak check in lagi. Udah langsung masuk aja ke kapal. Kayaknya tiket yang dipesen itu pasti close trip deh, jadi gak open trip gitu. Maksudnya mungkin kapal udah dipesan sama orang-orang yang pasti melakukan perjalanan pulang pergi.



Saatnya balik ke Stockholm dan mudik ke Belandaaaa!!

Di artikel selanjutnya, saya gak akan langsung nulis soal Belanda, tapi bahas sedikit soal Stockholm. Karena kita masih punya waktu beberapa jam di Stockholm terus dilanjut ke Bandara Arlanda, lalu terbang ke Amsterdam.

Kalo ada pertanyaan langsung lempar di kolom komentar aja ya.

Makasi udah mampir. Semoga artikel ini berguna. Jumpa lagi di artikel berikutnya.

Comments

Popular Articles

Pengalaman Beli Tiket Pesawat Murah ke Hong Kong

Beli Perlengkapan Winter Wear di Jakarta

Pengalaman Liburan ke Hong Kong [Part I]