Pengalaman Euro Trip 2017 Part I [Jakarta - Ho Chi Minh]

Halo gaes, balik lagi di artikel terbaru Tempat Sampah!


Sesuai janji sebelumnya, saya akan nulis pengalaman liburan saya ke Eropa tahun 2017. Sebenarnya trip saya ini bukan murni liburan, tapi ngunjungin keluarganya Adriana di Slovakia. Belajar mengenal keluarganya lebih dalam dan sekalian diskusi perihal rencana kita untuk melakukan pernikahan sipil.

Tapi semoga tulisan ini berkenan & bisa jadi inspirasi buat kalian yang mau liburan ke Eropa, khususnya Eropa Tengah.

Let's check this out...

9 Des 2017

FYI saya bawa dua koper, yg satu koper gede, yg satu lagi koper agak kecil. Dan 1 tas ransel. Isinya gak banyak, karena Adriana bilang dia dan keluarganya udah nyiapin winter wear buat saya di sana, dari mulai jaket/mantel, sweater, long john, kupluk, sarung tangan, dan kaos kaki. Kebetulan saya emang udah beli juga 2 pasang long john, sweater, dan sarung tangan di Jakarta dan itu saya bawa. Satu jaket yg biasa saya pake untuk naik motor, serta baju-baju lengan panjang, juga saya bawa. Sisanya, isi koper adalah oleh-oleh cemilan yang gak terlalu banyak untuk keluarga di sana.

Keberangkatan saya dimulai dari rumah di Depok tanggal 9 Desember 2017, sekitar jam 9.30. Saya pesen Uber sampe terminal Depok, dilanjut pake bis Hiba (dulunya Damri), bis yang ke bandara. Bis Hiba dari Depok ini lebih mahal dibanding tujuan Blok M atau Pasar Minggu. Dari Depok ke bandara dan dari bandara ke Depok harganya Rp 60,000 sekali jalan. Jadwalnya 1 jam sekali.


Tujuan pertama bis Hiba ini adalah Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta. Pas banget kan, kebetulan saya memang terbang dari Terminal 3. Saya sampe di bandara sekitar jam 11an. Kebetulan saya masih punya cukup waktu, jadi saya sempatkan dulu lah ngerokok dan keliling Terminal 3 hehe. Ini pengalaman pertama saya terbang dari Terminal 3 Cengkareng, lho. Dan saya harus boarding sekitar jam 1.

Ini bukan troli saya ya, maap





Saran saya sih, jangan banyak keliling di sini, apalagi kalo bawa-bawa koper (meskipun pake troli). Terminal ini terlalu besar!

Setelah itu, lanjut ke counter check in Vietnam Airlines untuk naro bagasi karena kebetulan saya sudah check in online. Oh ya, kalo kalian penasaran kenapa saya pake Vietnam airlines, bisa dicek di artikel Terbanglah ke Paris.

Lanjut~

Saya cuman naro satu koper yg gede, koper yang lebih kecil saya bawa masuk kabin. Btw di counter ini ada lebih dari 1 orang. Kelihatannya mereka lagi santai, gak banyak penumpang.

Ada beberapa menit kebuang di counter ini karena ketidakpahaman petugasnya sama negara tujuan dan negara tujuan transit saya. Kira-kira begini pembicaraannya antara saya (G), petugas 1 (P1), petugas 2 (P2), dan managernya (M).
  • P1: "Mau ke mana, mas? (sambil liat paspor gue) Schengen, ya?"
  • G:   "Slovakia, mas."
  • P1: "Di mana tuh Slovakia? Ceko, ya?"
  • P2: "Oh Bratislava ya, mas?"
  • G:   "Iya mas, betul. Bratislava ibu kotanya."
  • P1: "Kok terbangnya ke Paris, mas? Oh iya, boleh liat asuransi perjalanannya?"
  • G:   "Saya ada penerbangan lanjutan ke Vienna, mas. (ngasih kuliah) Vienna itu salah satu gerbang masuk ke Slovakia, selain Praha & Košice. Nah karena saya dapet tiket murah ke Paris dulu, yaudah saya pake deh. Ini asuransinya, mas (ngasih print out asuransi).
  • P1: (liat-liat asuransi sama paspor dan visa) - (mukanya ngernyit) - "Pak X, Pak X!" (manggil managernya)
  • M: "Kenapa?"
  • P1: "Ini pak, masnya berangkat ke Slovakia tapi tujuan akhirnya ke Paris. Ini gimana prosedurnya, ya?"
  • M: "Ya, ada tiket lanjutannya kan, mas? Kereta atau pesawat atau bis?"
  • G:  "Ya ada, pak." (saya kasih tiket dari Paris ke Vienna)
  • M: "Yaudah, ga masalah. Jadi nanti bagasinya ambil di Paris ya, mas. Trus lanjut drop bagasi lagi di maskapai lanjutannya. Jadi penerbangan sama Vietnam Airlines selesai sampe Paris aja."
  • G: "Iya, saya ngerti, pak."
  • M: "Dah, lanjut. Gua ada perlu dulu sama cargo."
  • P1: "Siap, pak. Silakan mas, bagasinya ditaro."
Nah, itu kurang lebih berlangsung 10-15 menit. Plus durasi pengecekan bagasi dan ngedorongnya. Setelah itu, saya dapet boarding pass.

Boarding pass dari Jakarta ke Ho Chi Minh (transit)

Boarding pass dari Ho Chi Minh ke Paris

Lanjut lah saya ke loket imigrasi sebagai pintu gerbang untuk meninggalkan tanah air. Abis itu lanjut ke gate nomer 6.






Terminal 3 Cengkareng ini keren sih emang. Modern banget. Changi banget tapinya hahaha. Ya, cukup bangga lah!

Setelah beberapa menit nunggu di gate, sampe juga jam 1. Tapi petugasnya bilang bahwa pesawat yang akan ngangkut kita ke Ho Chi Minh itu baru sampe, emang agak telat. Butuh waktu beberapa menit lagi utk nunggu penumpangnya keluar semua & bebersihnya. Jadi sempet delay 20 menit di situ.

Setelah udah bisa boarding, baru kita ngantri untuk pengecekan tiket dan masuk ke dalam pesawat A321 yang baru pertama saya naikin! Biasanya saya terbang pake A320. Kalo A321 agak lebih panjang aja, muat lebih banyak orang, dibanding A320.


Saya dapat kursi 21A, window seat.

FYI, biasanya kursi A itu window seat. Kalo di A320 & B738 (Boeing 737-800), kursi F window seat juga. Tapi di A321, gak ada kursi F. Adanya G langsung, urutannya: seat D - seat E - seat G. Gak tau sih ya di maskapai lain. Apa ini berlaku untuk semua atau Vietnam Airlines aja. Untuk di pesawat wide body, seperti A330, B777, A380, A350, B747 itu beda lagi karena mereka konfigurasinya lebih banyak. Gak cuma sampe seat F atau seat G saja. Pas ke Paris dari Ho Chi Minh dengan A350, saya pilih seat K, window seat juga, tapi sebelah kanan.

Nah yang saya gak suka dari A321 Vietnam Airlines ini adalah in-flight entertainment-nya (IFE). Masa layarnya cuman satu untuk beberapa penumpang haha. Ya gak masalah sih, tp aneh aja. Mending gausah ada sekalian.





Sesaat kemudian saya terbang meninggalkan Indonesia sampai 3 minggu ke depan!

First leg: Jakarta, Indonesia - Ho Chi Minh, Vietnam.

Saya pernah baca di sebuah artikel. Atau komen Youtube gitu ya. Lupa hehe. Vietnam Airlines itu bagai mutiara di dalem laut. Memang ini maskapai gak keliatan di permukaan, gak banyak juga orang yang tau & pake. Tapi service-nya keren, bro!

Full service with delicious food on board!

Gak boong deh. Bahkan buat saya, Air France masih kalah, di bawahnya Vietnam Airlines dari segi packaging makanan dan rasa makanan itu sendiri. Bisa jadi karena saya dan Vietnam Airlines sama-sama dari Asia, jadi soal makanan nyambung.






Penerbangan dari Jakarta ke Ho Chi Minh ditempuh dalam waktu 3 jam lebih. Dan saya harus transit di bandara Tan Son Nhat selama kurang lebih 7 jam! Ya, maklum, tiket murah ehehehe...

Jam 5 sore, saya pun mendarat di bandara Tan Son Nhat dengan mulus. Gak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Ho Chi Minh. Sama-sama GMT+7, bareng Bangkok juga.

Apa saja yang saya lakukan di bandara Tan Son Nhat ini selama 7 jam? Dan ada apa aja di bandara ini? Simak di artikel selanjutnya. Tetap di Tempat Sampah ya bro bor sis!

Thank you udah mampir. Bye bye~

Comments

Popular Articles

Pengalaman Beli Tiket Pesawat Murah ke Hong Kong

Beli Perlengkapan Winter Wear di Jakarta

Pengalaman Liburan ke Hong Kong [Part I]