Planning, Planning dan Planning

Beberapa waktu lalu, demo buruh sedang marak di Jakarta. Demo ini dilakukan atas tidak puasnya buruh terhadap penghasilan mereka. Mereka pernah juga berdemo, akhirnya UMP (Upah Minimum Provinsi) pun dinaikkan jadi Rp 2,2 juta. Sekarang demo lagi, minta UMP naik jadi Rp 3,7 juta. Gubernur DKI akhirnya memutuskan menaikkan UMP jadi Rp 2,4 juta sekian.
Ini kisah lucu. Marak dibicarakan orang di berbagai media sosial. Dari mulai dukungan sampai hinaan. Biasa lah, pro dan kontra pasti ada. Di samping itu, melihat tuntutan buruh, gue jadi cukup kasihan. Kasihan sih, tapi kok ya aneh. Di berbagai media tuntutan buruh itu dibeberkan. Buruh menuntut kesejahteraan, seperti sapu lidi, sapu ijuk, cotton bud, sarung bantal, sarung guling, seprei, gunting, dll. Melihat tuntutan-tuntutan yang tidak perlu ini rasanya para buruh mesti mengkaji ulang. Apa benar itu yang dibutuhkan mereka dan keluarga mereka? Seperlu apa sih "gunting" dalam sebuah keluarga? Seperlu apa sih "sapu ijuk" atau "sapu lidi" dalam sebuah keluarga? Melihat tuntutan-tuntutan itu, terus terang gue kasihan sama buruh yang berdemo. Masa sih beli gunting aja gak bisa?? Masa sih mau beli cotton bud aja mesti harus demo dulu di kantor provinsi?? Aneh ini.
Dalam aksinya, mereka beriringan, konvoi dengan menggunakan motor dan beberapa bus sewaan. Mereka membawa panji-panji bertuliskan Federasi Serikat Pekerja Indonesia. Mereka masuk jalur busway ramai-ramai. Dari sekian ratus (mungkin ribu) para pendemo itu, banyak sekali yang menggunakan motor mewah. Sebutlah Kawasaki Ninja 250 R. Motor dengan kecepatan tinggi itu dibanderol dengan harga Rp 50-an juta. Ironis, melihat mereka yang menuntut kesejahteraan dari pemerintah. Seolah-olah beli cotton bud dan gunting saja tidak mampu tapi mereka PUNYA Ninja 250 R!! Wow!!


Ini murni lucu dan kasihan. Saya melihat dari kacamata pegawai, ya jelas penghasilan Rp 2,2 juta untuk hidup di Jakarta memang kurang. Kurang bukan berarti tidak cukup. Karena istilah kurang itu relatif. Buat orang yang punya lifestyle setiap weekend jalan keluar nonton bioskop, ya jelas kurang. Tapi, buat orang yang punya hobi nonton DVD atau membaca buku sambil berjemur di halaman rumah, gue ngga tau.
Banyak dari mereka yang protes meminta gaji minimal Rp 3,7 juta per bulan. Gila! Kenapa gila? Di sini, istilah buruh identik dengan pekerja berat, pekerja pabrik/konveksi, dengan lulusan minimal SMP/SMA. Jadi, mereka yang lulus SMA ingin bergaji lebih tinggi daripada lulusan sarjana? Mungkin saja, asal mereka memang mengabdi sudah cukup lama di perusahaan. Itu pun idealnya, menurut gue, perlu sekolah lagi jika mereka ingin naik jabatan dan naik gaji. Yang berkomentar di media sosial, terutama komentar negatif, ya mereka-mereka dari kalangan sarjana yang merasa akan dirugikan jika buruh (misal, lulusan SMA) bergaji lebih tinggi daripada mereka yang pegawai swasta (misal, lulusan sarjana). Balik lagi, menurut gue, mereka para lulusan sarjana ngga perlu takut dirugikan. Apa mungkin gaji lulusan SMA dan sarjana berbanding terbalik? Logikanya, jika gaji lulusan SMA bisa sampai Rp 3,7 juta, otomatis gaji fresh graduate sarjana bisa saja minimal Rp 5,2 juta.
Mari menelisik lagi. Menyoal kenapa buruh harus bergaji kecil. Sebetulnya tidak harus. Kalau buruh identik dengan lulusan sekolah menengah, alias bukan universitas, gue punya teman yang bapaknya cuma lulus SD tapi sekarang gajinya sudah mencapai Rp 14 juta per bulan di sebuah perusahaan tambang nasional. Melebihi gaji seorang supervisor di perusahaan ritel swasta. Ini didapatkan bukan seperti sulap, tapi memang prosesnya panjang. Berawal dari kuli angkut hingga mendapatkan promosi menjadi kapten kapal keruk. Kok bisa? Ya ketekunan dan kesungguhan. Satu lagi, beliau ambil sekolah paket C untuk bisa dipromosikan. Jadi, selain niat dan kemauan tinggi, "sekolah" juga perlu.
Buat para pegawai lulusan sarjana, keinginan buruh ini dikecam habis-habisan. Dari mulai anggapan sekolah rendahan, tidak tahu diri, tidak berotak, terlalu banyak gaya, dan lain sebagainya. Entah gue ngga ngerti. Gue yakin, percuma juga kalau harus menghina mereka. Lebih baik gue melihat dari jauh perkembangan yang terjadi dan menonton aksi-aksi para buruh ditemani secangkir kopi hangat. Realistis? Jelas mereka realistis! Keterlaluan? Jelas keterlaluan!
Mereka punya Ninja 250R tapi mereka ngga mampu beli gunting dan cotton bud 😕
Tapi menurut saya pribadi (lagi), tuntutan buruh itu masih bisa berterima. Kalau memang benar tuntutan itu murni dari dalam diri dan keluarganya, bukan karena hasil propaganda satu pihak, itu masih manusiawi kok. Misal, mereka butuh gaji tinggi untuk membeli pakaian istrinya atau kebutuhan rumah tangga lain. Mereka butuh gaji tinggi untuk kehidupan dan sekolah anaknya (yang mungkin bisa lebih dari satu anak). Hmm.. Melihat ke sini sebetulnya ada satu hal yang kurang mereka pikirkan; Perencanaan Matang!
Pendidikan yang tinggi membentuk pola pikir seseorang menjadi lebih kritis, "visioner", serta realistis. Jika buruh identik dengan pendidikan yang rendah, mungkin itu jawaban terlogis. Pendidikan rendah membuat seseorang tidak berpikir jernih, cenderung asal mengambil keputusan, tidak punya perencanaan dan manajemen resiko, dan cenderung ingin enak. Ini betul. Gue melihat ini di lapangan. Banyak orang semacam ini di lingkungan sekitar gue. Contohnya, menikah sesegera mungkin.
Menikah dan membangun keluarga memang dambaan setiap orang. Tapi kalau tanpa perencanaan yang matang, ya jadinya seperti itu. Anak sudah besar, tidak mampu menyekolahkan, terlantar. Anaknya akan memperlakukan anaknya lagi sama seperti ayahnya memperlakukan dia. Berputar terus.
Saran gue, pegawai muda, buruh, karyawan, atau apapun pekerjaan saat ini, jika sudah terlintas di kepala tentang pernikahan, coba dipikirkan dari hal-hal terbesar sampai ke yang terkecil. Keuntungan, risiko, dana/biaya, mentalitas, karakter pasangan, masalah-masalah yang akan muncul, dan masih banyak lagi. Jika sudah siap dan bisa meminimalisasi risiko-risiko serta siap menghadapi masalah-masalah dan mampu menyelesaikannya, baru lah melangkah. Gue tau, di sini orang malas berpikir. Bahkan mereka banyak yang memasrahkan semuanya kepada takdir (mereka menyebutnya Tuhan). Ungkapan "Rejeki pasti ada saja nanti kalau sudah niat menikah, begitu pun rejeki untuk anak. Percaya sama Allah." sudah mendarah daging. Hal ini menyebabkan orang sudah tidak berpikir panjang soal pernikahan. Padahal gue yakin, bukan itu maksud Tuhan. Tuhan menciptakan otak dan pikiran untuk dipergunakan semaksimal mungkin. Jika kita diberikan momongan, Tuhan menitipkan untuk kita jaga baik-baik, jangan sampai ditelantarkan. Tuhan menitipkan istri/suami untuk kita jaga, kita layani dan nafkahi dengan baik.
Oleh karena itu, rata-rata seseorang yang pendidikannya rendah cenderung mudah untuk melangkah ke jenjang pernikahan dan memiliki banyak anak, tanpa mereka pikirkan akibat-akibatnya. Mungkin ini yang dirasakan buruh-buruh, yang (maaf) baru merasakan kesulitan-kesulitan setelah menikah dan punya anak. Karena di masa muda tidak merencanakan segala keperluan dengan matang, terutama urusan finansial.

Comments

Popular Articles

Pengalaman Beli Tiket Pesawat Murah ke Hong Kong

Beli Perlengkapan Winter Wear di Jakarta

Pengalaman Liburan ke Hong Kong [Part I]